
seseorang yang tidak berkomunikasi dengan saudara kandung./Freepik/EyeEm
JawaPos.com - Hubungan dengan saudara kandung sering dianggap sebagai ikatan terpanjang dalam hidup seseorang.
Sejak kecil hingga dewasa, saudara kandung menjadi saksi tumbuh kembang kita—dari pertengkaran sepele, tawa tanpa alasan, hingga rahasia yang hanya dipahami berdua. Namun, tidak semua orang tumbuh dengan hubungan yang hangat bersama saudara kandungnya.
Dalam praktik psikologi, orang yang jarang atau hampir tidak berkomunikasi dengan saudara kandungnya saat dewasa sering kali bukan karena kebencian semata, melainkan karena rangkaian pengalaman masa kecil yang membentuk cara mereka memandang hubungan, emosi, dan batasan diri.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (21/1), terdapat 9 pengalaman masa kecil yang unik yang sering ditemukan pada mereka yang tumbuh menjadi individu dengan jarak emosional terhadap saudara kandungnya.
1. Tumbuh dalam Lingkungan yang Minim Keamanan Emosional
Anak yang dibesarkan di rumah dengan konflik tinggi, komunikasi keras, atau emosi yang tidak stabil sering belajar satu hal sejak dini: menjaga jarak adalah cara bertahan.
Alih-alih menjadikan saudara kandung sebagai tempat berlindung, mereka justru belajar menutup diri. Akibatnya, ikatan emosional tidak pernah benar-benar terbentuk, dan kebiasaan menjaga jarak ini terbawa hingga dewasa.
2. Sering Dibanding-bandingkan oleh Orang Tua
Perbandingan seperti “kenapa tidak bisa seperti kakakmu?” atau “adikmu lebih penurut” tampak sepele, tetapi dampaknya mendalam.
Dalam psikologi, perbandingan kronis dapat memicu rivalitas tersembunyi, rasa tidak cukup, dan luka harga diri. Anak akhirnya melihat saudara kandung bukan sebagai rekan, melainkan sebagai ancaman emosional. Ketika dewasa, menjauh terasa lebih aman daripada menghidupkan kembali luka lama.
3. Terpaksa Dewasa Lebih Cepat dari Usianya
Banyak orang yang jarang berkomunikasi dengan saudara kandungnya adalah mereka yang dulu dipaksa menjadi “anak dewasa”—menjadi penengah konflik, pengasuh adik, atau penopang emosi keluarga.
Ketika masa kecil dihabiskan untuk bertanggung jawab, hubungan saudara berubah menjadi beban, bukan ikatan. Jarak di usia dewasa sering kali merupakan bentuk kelelahan emosional yang tertunda.
4. Tidak Pernah Diajarkan Cara Mengekspresikan Emosi
Sebagian keluarga menanamkan pesan implisit seperti “jangan cengeng”, “diam saja”, atau “masalah keluarga tidak perlu dibicarakan”.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
