
Hal ini jika dilakukan dalam keluarga saat Natal membuat liburan jadi berantakan (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Hubungan keluarga sering dianggap sebagai tempat paling aman untuk menjadi diri sendiri.
Namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang justru merasa lebih nyaman, hangat, dan terbuka saat bersama teman atau rekan kerja dibandingkan dengan keluarga sendiri.
Mereka bisa tertawa lepas dengan sahabat, berbagi cerita mendalam dengan kolega, bahkan bersikap ramah pada orang asing.
Namun ketika pulang ke rumah atau bertemu keluarga, sikap mereka berubah menjadi lebih tertutup, berhati-hati, dan menjaga jarak.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Psikologi menjelaskan bahwa pola tersebut sering kali berakar dari pengalaman masa kecil yang membentuk mekanisme perlindungan diri.
Dikutip dari laman Geediting, Selasa (23/12), terdapat sejumlah pengalaman masa kanak-kanak yang kerap dialami oleh orang-orang yang hangat pada teman, tetapi dingin pada keluarga.
Anak membutuhkan kestabilan emosi untuk merasa aman. Ketika orang tua mudah berubah dari penyayang menjadi marah tanpa peringatan, anak belajar untuk selalu waspada.
Kebiasaan membaca situasi dan emosi ini terbawa hingga dewasa. Bersama keluarga, sistem kewaspadaan lama kembali aktif. Sementara dengan teman yang dipilih sendiri, seseorang merasa lebih aman karena pola emosinya lebih bisa diprediksi.
Sebagian anak harus menjadi penengah konflik, pengasuh adik, atau tempat curhat orang tua sejak usia dini. Kondisi ini membuat mereka menekan kebutuhan pribadi demi menjaga stabilitas keluarga.
Akibatnya, saat dewasa mereka kesulitan bersikap autentik di lingkungan keluarga. Sebaliknya, bersama teman, mereka tidak memiliki peran yang harus dimainkan dan bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya.
Pengabaian emosional terjadi ketika perasaan anak tidak direspons atau dianggap penting. Anak belajar bahwa emosi mereka tidak layak diperhatikan.
Luka ini sering bertahan lama. Dengan keluarga, dinding emosional tetap berdiri karena luka awal terjadi di sana. Namun pertemanan memberi ruang baru untuk belajar terbuka tanpa rasa takut diabaikan.
Anak yang tumbuh dengan kritik terus-menerus belajar untuk membatasi cerita dan perasaan mereka. Berbagi dianggap berisiko karena bisa menjadi bahan serangan berikutnya.
Di sisi lain, pertemanan yang dibangun saat dewasa biasanya tidak dibebani sejarah kritik, sehingga rasa aman untuk terbuka lebih mudah tercipta.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
