
ilustrasi seorang pria yang terlihat sedang berbicara di depan cermin, seolah memantulkan sifat egois dan fokus pada diri sendiri yang ekstrem./Freepik
JawaPos.com - Pernahkah Anda mencoba berbagi cerita penting, namun lawan bicara tiba-tiba mengubah topik pembicaraan agar semua menjadi tentang dirinya sendiri?
Perilaku yang mengganggu ini sering muncul ketika Anda menceritakan kesulitan, lalu mereka memotong dengan cerita penderitaan yang dianggap lebih buruk daripada milik Anda.
Fenomena ketika seseorang terus-menerus menarik sorotan perhatian ke dirinya ini bukanlah sekadar menyebalkan, melainkan sering menjadi sinyal dari ketidakdewasaan emosional yang belum teratasi.
Orang yang selalu membuat segalanya tentang dirinya belum mengembangkan kesadaran emosional, empati, atau batasan yang merupakan ciri kematangan sejati, melansir dari Global English Editing Minggu (26/10).
1. Terus-Menerus Membutuhkan Validasi untuk Merasa Aman
Individu yang belum matang secara emosional umumnya memiliki harga diri yang rapuh sehingga mereka terus mencari pengakuan dari orang lain karena didorong rasa tidak aman. Ketika Anda berbagi, mereka mungkin merespons dengan, "Itu tidak seberapa, tunggu sampai kamu mendengar cerita saya!" atau sekadar hanya menceritakan pengalaman mereka yang sama. Perilaku ini bukan murni arogansi, melainkan kebutuhan mendalam untuk merasa dilihat, dihargai, dan dianggap penting oleh orang lain di sekitarnya. Psikologisnya, rasa harga diri mereka sangat bergantung pada bagaimana orang lain melihat dirinya, bukan pada stabilitas yang ditemukan di dalam diri.
2. Kurangnya Empati Terhadap Emosi Orang Lain
Empati memerlukan pengaturan emosi atau kemampuan untuk menyisihkan perasaan diri demi bisa terhubung secara tulus dengan perasaan orang lain yang sedang berbicara. Orang yang belum matang secara emosional kesulitan melakukan ini sehingga ketika orang lain kesal, mereka tidak tahu cara memberikan ruang yang aman. Mereka mungkin meremehkan, menyela, atau langsung berbagi cerita sendiri alih-alih mencoba mendengarkan dengan sepenuh hati dan tulus. Mereka secara tidak sadar mengarahkan energi emosional kembali ke diri sendiri karena merasa tidak nyaman dengan rasa sakit yang ditunjukkan oleh orang lain.
3. Mereka Menafsirkan Segala Sesuatu Secara Pribadi
Satu ciri khas ketidakdewasaan emosional adalah fokus berlebihan pada ego atau keyakinan bawah sadar bahwa segala sesuatu entah bagaimana terhubung dengan dirinya sendiri. Hal ini terlihat pada orang yang bereaksi berlebihan terhadap komentar netral atau berasumsi perilaku orang lain selalu ditujukan kepada dirinya. Jika temannya tidak cepat membalas pesan, ia mungkin berpikir, "Apa yang salah dengan saya?" atau merasa diserang jika ada yang menyatakan pendapat berbeda. Ketika mereka membuat segala sesuatu tentang diri sendiri, itu tidak hanya terjadi dalam percakapan, tetapi juga dalam persepsi mereka tentang dunia sekitar.
4. Sulit Mentoleransi Ketidaknyamanan Emosional
Orang yang selalu membuat segala sesuatu tentang diri mereka sering melakukannya sebagai mekanisme pertahanan diri saat berhadapan dengan emosi tidak nyaman. Saat menghadapi kesedihan, rasa bersalah, atau bahkan kerentanan orang lain, mereka akan mengalihkan fokus kembali kepada diri sendiri demi mendapatkan kembali rasa kendali. Ini adalah cara yang tidak disadari untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan tersebut, di mana mereka akan mengalihkan ketegangan emosional. Sebagai satu di antara bentuk penghindaran emosional, mereka menolak untuk diam dan duduk bersama perasaan sulit, baik itu miliknya sendiri maupun orang lain.
5. Kurangnya Batasan dan Mengacaukan Koneksi dengan Kendali
Bagi mereka yang tidak matang secara emosional, batasan pribadi dapat dengan mudah hilang dan hubungan menjadi kabur. Mereka mungkin berbagi terlalu banyak tentang diri sendiri, menyela cerita Anda, atau marah jika Anda tidak merespons sesuai harapan mereka. Hal ini seolah menempatkan Anda dalam peran untuk melayani kebutuhan emosionalnya karena mereka menyamakan perhatian dengan kasih sayang dan mengacaukan kontrol dengan koneksi. Mereka mungkin langsung menawarkan saran atau penghakiman ketika Anda berbagi masalah, karena keyakinan bahwa keterlibatan emosional berarti ikut campur dalam pengalaman Anda.
6. Sulit untuk Introspeksi atau Mengakui Kesalahan

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
