
Ilustrasi empati di antara sekumpulan teman. (Freepik)
JawaPos.com – Bayangkan kamu sedang bercerita kepada teman tentang hari yang berat. Pekerjaan menumpuk, kepala pusing, atau hati lelah. Namun sebelum kamu selesai berbicara, temanmu justru malah tersenyum dan berkata, “Udah, jangan sedih. Lihat sisi positifnya aja!”. Kamu pun mengangguk, mencoba ikut tersenyum. Tapi di dalam hati, ada rasa aneh seperti ditolak secara halus. Kalimat yang seharusnya menghibur malah membuatmu merasa bersalah karena tidak bisa langsung “bahagia.”
Fenomena ini disebut toxic positivity, yaitu sebuah bentuk dorongan untuk selalu berpikir positif yang, tanpa disadari, justru bisa menjadi hal yang berbahaya. Menurut Psychology Today, toxic positivity adalah tindakan menghindari, menekan, atau menolak emosi negatif dengan cara memaksakan hal-hal positif terus-menerus. Artinya, ketika seseorang menghadapi kesulitan, mereka tidak diberi ruang untuk merasa marah, kecewa, atau sedih karena dianggap “tidak produktif” atau “menebar energi negatif.”
Padahal, menurut psikolog, emosi negatif bukan musuh. Ia adalah bagian alami dari pengalaman manusia. Namun, di era media sosial yang penuh kutipan motivasi, sering kali kita merasa harus selalu tersenyum dan kuat seolah kesedihan adalah tanda kelemahan.
Apa Itu Toxic Positivity?
Secara sederhana, toxic positivity adalah ketika “selalu positif” menjadi kewajiban, bukan pilihan. Berpikir positif tentu baik, dapat membantu kita tetap bersemangat dan melihat harapan di tengah masalah. Tapi, saat sikap positif berubah menjadi tekanan untuk menolak kenyataan emosional, di situlah masalah mulai muncul.
Toxic positivity bukan tentang optimisme, melainkan tentang penyangkalan. Menurut Verywell Mind, toxic positivity terjadi ketika seseorang menolak atau meminimalkan emosi yang tidak menyenangkan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Beberapa contoh kalimat yang sering terdengar:
“Kamu harus tetap bersyukur, banyak yang lebih susah dari kamu.”
“Jangan nangis, kamu kan kuat.”
“Udah, jangan pikirin yang jelek-jelek.”
Kalimat-kalimat ini seolah memberikan semangat, tapi sebenarnya menutup ruang untuk merasa. Alih-alih membantu, justru menciptakan beban baru, yakni rasa bersalah karena tidak bisa selalu bahagia. Di balik “vibes positif” yang terus didorong, sering kali tersembunyi tekanan untuk menekan kesedihan, kehilangan, atau kekecewaan.
Toxic positivity bisa muncul di mana saja. Di kantor, di rumah, atau bahkan dalam diri sendiri. Ia sering tampak lewat kalimat yang terdengar baik tapi sebenarnya menolak emosi, seperti “Aku nggak boleh sedih” atau “Udah, jangan nangis, kamu pasti bisa.” Sikap seperti ini membuat kita atau orang lain merasa tidak punya ruang untuk merasakan perasaan negatif yang sebenarnya wajar. Kadang, seseorang juga merasa bersalah karena tidak bahagia, atau menilai orang lain lemah hanya karena mudah emosional.
Dalam banyak situasi, kita tanpa sadar menyembunyikan kesedihan di balik kutipan motivasi, atau menghindari pembicaraan serius agar suasana tetap “positif.” Padahal, hal itu justru membuat hubungan terasa dangkal. Contohnya, saat rekan kerja mengeluh stres dan kita berkata, “Lihat sisi positifnya, kamu masih punya pekerjaan.” Maksudnya baik, tapi kalimat itu menolak kenyataan emosinya. Respons yang lebih sehat misalnya, “Aku ngerti banget itu pasti bikin stres, kamu mau cerita?”. Hal itu bisa jadi respons yang sederhana, tapi memberi ruang untuk perasaan yang nyata dan valid.
Mengapa Toxic Positivity Berbahaya?
Menurut Verywell Mind, toxic positivity bisa berdampak negatif dalam jangka panjang karena membuat seseorang kehilangan hubungan dengan diri emosionalnya. Beberapa dampaknya antara lain:

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
