Ilustrasi patah hati
JawaPos.com – Tidak sedikit orang yang merasa sulit melupakan masa lalu, entah karena pengalaman buruk yang membekas atau kenangan indah yang membuat hati enggan beranjak. Fenomena ini ternyata bukan sekadar masalah pribadi, melainkan juga memiliki penjelasan psikologis yang cukup kompleks.
Menurut Psychology Today, salah satu alasan utama seseorang sulit melepaskan masa lalu adalah karena otak manusia cenderung merekam pengalaman emosional dengan sangat kuat.
Emosi negatif seperti penyesalan, kemarahan, atau rasa sakit biasanya lebih lama tersimpan dibanding perasaan netral. Hal inilah yang membuat banyak orang masih merasa dihantui peristiwa masa lalu meski sudah bertahun-tahun berlalu.
Psikolog dari Beyond Healing Counseling menjelaskan bahwa keterikatan pada masa lalu sering berkaitan dengan kebutuhan manusia akan rasa aman.
Masa lalu, meskipun menyakitkan, tetap memberi rasa familiar. Otak lebih memilih mempertahankan sesuatu yang dikenal daripada menghadapi ketidakpastian masa depan.
Di sisi lain, kenangan indah juga bisa menjadi jebakan. Abby Medcalf, Ph.D., seorang pakar hubungan, menilai bahwa orang kerap mengulang cerita masa lalu karena sulit menerima bahwa keadaan sekarang tidak sebaik dulu. Mereka berharap bisa menghidupkan kembali momen bahagia, padahal kondisi saat ini sudah berbeda.
Fenomena ini pun mendapat perhatian dari berbagai penelitian. Medical News Today melaporkan bahwa rasa bersalah, dendam, hingga kegagalan yang tidak terselesaikan menjadi faktor dominan yang membuat seseorang tidak bisa melangkah maju. Bahkan, terus-menerus memikirkan masa lalu bisa meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Menurut artikel di Thrive Global, ada delapan alasan psikologis mengapa orang sulit move on, mulai dari rasa takut sendirian, rendahnya harga diri, hingga kebiasaan overthinking. Namun, ada pula strategi untuk melepaskan diri dari jerat masa lalu. Misalnya, menerima kenyataan, menulis jurnal refleksi, mencari dukungan sosial, dan mempraktikkan mindfulness.
Verywell Mind menambahkan bahwa salah satu langkah praktis adalah mengubah perspektif. Daripada melihat masa lalu sebagai beban, coba jadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk membangun masa depan lebih baik. Latihan pernapasan, meditasi, hingga terapi profesional juga terbukti efektif membantu individu berdamai dengan masa lalu.
Meski begitu, proses melepaskan tidak selalu mudah dan instan. Butuh waktu, keberanian, serta konsistensi untuk benar-benar bisa melanjutkan hidup. Tidak apa-apa bila masih teringat pada peristiwa tertentu, asalkan tidak sampai menghambat aktivitas atau menggerogoti kesehatan mental.
Psikolog klinis juga menekankan pentingnya self-compassion atau rasa kasih pada diri sendiri. Banyak orang terjebak dalam sikap menyalahkan diri atas kesalahan masa lalu, padahal setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dengan menerima bahwa kita tidak sempurna, proses pemulihan bisa berjalan lebih ringan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
