Ilustrasi seseorang yang tengah melakukan terapi psikologi. (Freepik/ shurkin_son)
JawaPos.com – Trauma masa lalu bukan sekadar kenangan buruk, tetapi bisa menjadi luka psikologis yang memengaruhi emosi, pikiran, bahkan kesehatan fisik seseorang. Kondisi ini dapat muncul akibat pengalaman traumatis seperti kecelakaan, kekerasan, bencana, atau konflik. Pertanyaannya, bagaimana terapi psikologi dapat membantu seseorang pulih dari trauma?
Apa itu trauma dan mengapa butuh terapi?
Menurut American Psychological Association (APA), trauma adalah respons emosional terhadap peristiwa yang mengguncang atau mengancam rasa aman seseorang. Jika tidak ditangani dengan baik, trauma dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, depresi, hingga sulit membangun hubungan sehat. Oleh karena itu, terapi psikologi hadir untuk membantu individu memproses pengalaman tersebut dan menemukan kembali keseimbangannya.
Jenis terapi psikologi untuk mengatasi trauma
Ada berbagai bentuk terapi psikologi yang digunakan untuk membantu penyintas trauma. Menurut Routledge (2023) dan NHS UK, beberapa pendekatan yang umum dipakai antara lain:
Trauma Healing. Metode ini berfokus pada pemulihan emosi melalui teknik relaksasi, konseling, dan aktivitas yang menenangkan. Halodoc (2024) mencatat bahwa trauma healing sering digunakan dalam konteks bencana atau konflik sosial.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi kognitif-perilaku membantu individu mengenali pola pikir negatif yang terbentuk akibat trauma, lalu menggantinya dengan cara berpikir yang lebih sehat. CBT diakui efektif mengurangi gejala PTSD dan kecemasan.
Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). Teknik ini menggunakan gerakan mata untuk membantu otak memproses pengalaman traumatis. Menurut APA, EMDR terbukti mempercepat proses pemulihan pasien dengan trauma berat.
Terapi Berbasis Paparan (Exposure Therapy). Terapi ini bertujuan membantu individu menghadapi ketakutan mereka secara bertahap, sehingga meminimalkan respons berlebihan terhadap pemicu trauma.
Terapi Kelompok dan Dukungan Sosial. Dukungan dari komunitas atau kelompok sebaya juga memainkan peran penting. UINSA (2022) menjelaskan bahwa strategi ini membantu penyintas merasa tidak sendirian dan lebih diterima.
Siapa yang membutuhkan terapi psikologi untuk trauma?
Tidak semua orang yang mengalami kejadian buruk otomatis mengalami trauma. Namun, mereka yang menunjukkan gejala berkepanjangan seperti mimpi buruk, mudah terkejut, cemas berlebihan, atau menarik diri dari lingkungan sosial disarankan untuk segera mencari bantuan profesional.

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
