Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 21.55 WIB

Psikolog Ungkap Cara Memprioritaskan Diri Sendiri: Kunci Hidup Seimbang, Jauh dari Stres, dan Lebih Produktif

Memprioritaskan diri sendiri bukan bentuk egois, tetapi langkah penting menjaga kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup. (Freepik) - Image

Memprioritaskan diri sendiri bukan bentuk egois, tetapi langkah penting menjaga kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup. (Freepik)

JawaPos.com – Pernahkah Anda merasa lelah karena selalu mendahulukan kepentingan orang lain? Fenomena ini ternyata umum dialami banyak orang, terutama mereka yang terbiasa menjadi “penolong” dalam lingkaran sosialnya. Namun, para psikolog menegaskan bahwa belajar memprioritaskan diri sendiri justru merupakan langkah penting agar hidup lebih seimbang, sehat, dan bahagia.

Apa itu memprioritaskan diri sendiri?

Menurut Psychology Today (2017), memprioritaskan diri bukan berarti egois atau tidak peduli pada orang lain. Sebaliknya, hal ini adalah seni menempatkan kebutuhan pribadi—baik fisik, emosional, maupun mental—pada posisi yang semestinya. Dengan cara ini, seseorang memiliki energi dan kestabilan lebih baik untuk tetap mendukung orang-orang di sekitarnya.

Situs Psychology Everywhere menambahkan, membangun batasan sehat (healthy boundaries) adalah inti dari praktik ini. Tanpa batasan, seseorang cenderung kehilangan arah, merasa kewalahan, dan bahkan berisiko mengalami burnout.

Psikolog menyebut, individu yang kerap mengabaikan diri demi orang lain menjadi kelompok paling rentan. Mereka antara lain pekerja sosial, tenaga kesehatan, orang tua, hingga mahasiswa aktif dalam berbagai organisasi. Menurut Sova Project Pittsburgh, kelompok ini sering mengalami tekanan berlebih karena kesulitan menolak permintaan meski sebenarnya tidak sanggup.

Keterampilan memprioritaskan diri bisa diterapkan di berbagai aspek kehidupan.

  • Di dunia kerja, artinya tahu kapan harus beristirahat dan kapan berkata “tidak” pada pekerjaan tambahan yang berlebihan.

  • Dalam keluarga, hal ini membantu seseorang menyeimbangkan peran sebagai pasangan, anak, atau orang tua tanpa mengorbankan kesehatan pribadi.

  • Di lingkaran sosial, kemampuan ini justru menumbuhkan relasi yang lebih sehat. Teman atau pasangan yang baik seharusnya menghargai kebutuhan kita untuk mengambil waktu sendiri (me time) tanpa rasa bersalah.

  • Kapan harus memulainya?

    Menurut Therapyside (2023), praktik memprioritaskan diri bisa dimulai dari hal kecil, seperti menyediakan waktu 15 menit per hari untuk aktivitas pribadi yang menyenangkan. Misalnya membaca buku, menulis jurnal, atau sekadar berjalan kaki. Rutinitas sederhana ini memperkuat kesadaran bahwa diri sendiri pun layak mendapat perhatian.

    Mengapa penting bagi kesehatan mental?

    Psikologi menjelaskan, manusia yang terlalu sering mengabaikan dirinya berisiko mengalami stres kronis, rasa rendah diri, hingga kelelahan emosional. Sebaliknya, dengan mengutamakan kebutuhan pribadi, seseorang mampu mengisi kembali “tangki energi” mereka.

    Penelitian dari Psychology Spot (2019) membuktikan, orang yang rutin melakukan self-care dan tahu kapan memprioritaskan diri cenderung lebih tahan terhadap stres serta memiliki kualitas hubungan yang lebih sehat.

    Lebih jauh, memprioritaskan diri juga membantu meningkatkan kualitas keputusan. Saat seseorang terbiasa menekan kebutuhan pribadi demi orang lain, pikirannya mudah tertekan sehingga sulit membuat pilihan yang jernih. Dengan memberi ruang pada diri sendiri, individu lebih mampu menimbang konsekuensi dan berpikir rasional.

    Editor: Novia Tri Astuti
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore