Bias kognitif memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, dari pilihan sehari-hari hingga keputusan penting dalam bisnis dan kehidupan sosial
JawaPos.com – Pernahkah Anda mengambil keputusan yang kemudian disesali, meski saat itu terasa benar? Fenomena ini bisa jadi akibat dari bias kognitif, yaitu pola pikir irasional yang memengaruhi cara seseorang memproses informasi dan mengambil keputusan.
Menurut jurnal Journal of Social Behavior (UII, 2023), bias kognitif bukan sekadar kesalahan berpikir biasa, melainkan hasil dari cara otak menyederhanakan informasi yang kompleks.
Otak manusia bekerja cepat dengan menggunakan mental shortcut, namun sering kali jalan pintas inilah yang menimbulkan distorsi logika.
Apa itu bias kognitif dan mengapa berbahaya?
Bias kognitif adalah kecenderungan berpikir yang menyimpang dari rasionalitas. Menurut penelitian di ScienceDirect (2022), bias kognitif bisa membuat seseorang menilai situasi dengan tidak objektif, bahkan melahirkan keputusan yang merugikan.
Bias kognitif dapat memengaruhi siapa saja, mulai dari pelajar, pekerja, hingga pemimpin perusahaan. Penelitian yang dimuat dalam PMC Journal (2022) menegaskan bahwa individu dengan tingkat stres tinggi cenderung lebih mudah terjebak pada bias, karena kondisi emosional memengaruhi kemampuan berpikir rasional.
Di dunia bisnis, misalnya, pengambil keputusan sering kali terjebak overconfidence bias, yaitu terlalu percaya diri pada analisisnya sendiri, meski tanpa data valid. Sementara dalam kehidupan sosial, halo effect membuat seseorang menilai orang lain hanya berdasarkan kesan pertama, tanpa melihat bukti lain yang lebih akurat.
Baca Juga: Kenapa Hidup Terasa Hambar Seperti Tak Ada Arti? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Di mana dampak bias kognitif paling terasa?
Bias kognitif bisa terlihat nyata dalam berbagai konteks kehidupan. Dalam perusahaan, kesalahan analisis akibat bias bisa berakibat pada kerugian finansial. Menurut Assa Journal (2022), bias dalam pengambilan keputusan bisnis dapat menghambat inovasi, karena pimpinan lebih memilih strategi yang terasa aman daripada mengeksplorasi opsi baru.
Di ranah hukum, bias kognitif juga dapat memengaruhi hakim atau juri. Penelitian dari Humaniora Sains (2023) menyebutkan bahwa persepsi subjektif sering kali memengaruhi putusan, meski bukti faktual sudah jelas tersedia.
Psikolog menjelaskan bahwa bias kognitif mulai terbentuk sejak manusia belajar menyerap informasi di masa kecil. Otak secara alami mencari pola cepat untuk menghemat energi berpikir. Namun, pola ini justru bisa menyesatkan. Menurut PIJED Journal (2022), bias cenderung semakin kuat ketika seseorang tumbuh di lingkungan dengan informasi yang homogen, tanpa banyak paparan pada perspektif berbeda.
Mengapa bias kognitif begitu sulit dihindari?

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
