Ilustrasi jenis imposter syndrome yang membuat seseorang meragukan kemampuannya sendiri/freepik.com
JawaPos.com - Dr. Valerie Young, pakar terkemuka dalam bidang impostor syndrome dan salah satu pendiri Impostor Syndrome Institute, menerangkan bahwa sindrom ini tidak muncul dalam satu bentuk saja. Berdasarkan penelitiannya, imposter syndrome dapat diklasifikasikan ke dalam lima tipe utama.
Kelima tipe ini membantu menjelaskan bagaimana seseorang dapat merasa tidak cukup layak, walau memiliki pencapaian yang jelas.
Dengan mengenali tipe yang paling menggambarkan dirimu, maka langkah mengatasi rasa ragu dan membangun kepercayaan diri pun bisa lebih terarah. Mengutip Very Well Mind, berikut ini jenis-jenis imposter syndrome yang membuat seseorang meragukan kemampuannya sendiri.
1. The Perfectionist
Salah satu bentuk imposter syndrome yang paling umum, yakni The Perfectionist. Tipe ini ditandai dengan keyakinan bahwa apa pun yang kurang dari sempurna dianggap tidak cukup baik. Meskipun kamu mungkin telah mencapai banyak hal, kamu tetap merasa seperti penipu karena menurut standar pribadimu, senantiasa ada yang mampu diperbaiki.
Orang dengan tipe ini sering kesusahan menerima pujian atau pencapaian, sebab mereka percaya bahwa hasil mereka belum mencerminkan potensi maksimal. Perfeksionisme inilah yang menciptakan celah antara persepsi diri dan apa yang dilihat orang lain.
2. The Expert
Tipe The Expert dalam imposter syndrome sering merasa tidak layak disebut ahli hanya karena belum mengetahui segalanya tentang suatu topik atau belum menguasai setiap detail proses yang sedang dijalani. Meskipun mereka punya pengalaman dan pencapaian yang solid, mereka tetap merasa belum cukup menjadi pakar.
Perasaan ini muncul karena fokus berlebihan terhadap apa yang belum mereka ketahui, bukan pada apa yang sudah berhasil dicapai. Akibatnya, rasa percaya diri terganggu, dan pencapaian diri pun terasa kurang berarti.
3. The Natural Genius
Pada tipe Natural Genius, seseorang merasa seperti penipu bukan akibat kurang usaha, tetapi sebab mereka tidak percaya bahwa kecerdasan atau kemampuan mereka datang secara alami. Mereka menilai diri berdasarkan seberapa cepat dan mudah mereka menguasai sesuatu.
Apabila butuh waktu lebih lama guna memahami sebuah keterampilan atau mengalami kesulitan di awal, mereka langsung merasa tidak cukup pintar dan karena itu, merasa tidak pantas atas kesuksesan yang diraih. Bagi mereka, jika tidak dapat langsung berhasil, maka berarti mereka gagal.

Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 Menit
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Jude Bellingham Ungkap Adu Argumennya dengan Lionel Messi saat Inggris Tumbang dari Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
3 Fakta Statistik yang Untungkan Spanyol Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente Punya Pola Juara
