
Ilustrasi ketika seorang mengalami trauma akan suatu kejadian. (Freepik)
JawaPos.com–Pernikahan dianggap sebagai momen sakral dan tujuan hidup banyak orang. Namun bagi Gen Z pandangan ini kian menjadi berubah. Salah satu alasan yang memengaruhi adalah trauma lama akibat pengalaman perceraian dalam keluarga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2024, terdapat 394.608 kasus perceraian di Indonesia. Walaupun bisa dikatakan jumlah ini menurun sekitar 14-15 persen dari tahun sebelumnya, angka ini tetap disayangkan karena menunjukkan betapa seringnya perceraian terjadi. Ini juga membuktikan bahwa banyak anak-anak dan remaja yang tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap dan terpecah belah.
Bagi Gen Z yang pernah menyaksikan perceraian orang tua, tidak menutup kemungkinan pengalaman ini akan meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Pernikahan yang semula didambakan bagi sebagian orang, mungkin kini berubah pandangannya di mata Gen Z.
Mereka kerap akan mengaitkan pernikahan dengan konflik, pertengkaran, dan ketidakbahagiaan. Hal inilah yang membuat sebagian dari mereka merasa takut untuk menikah, karena takut mengulang rasa sakit yang sama seperti orang tuanya.
Peristiwa ini dapat menjadi salah satu alasan trauma lintas generasi. Trauma lintas generasi adalah luka psikologis yang tidak selesai dan diwariskan ke generasi selanjutnya. Maksudnya adalah, pengalaman negatif orang tua dapat membentuk pola pikir, emosi, bahkan perilaku anak di masa depan.
Perceraian dapat menjadi salah satu penyebab trauma lintas generasi. Seperti yang dilansir dari American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, meskipun orang tua merasa lega akan perceraiannya, terkadang anak-anak justru merasa takut dan bingung. Adapun beberapa orang tua yang merasa terluka dan kewalahan dengan proses perceraian, kemudian meminta pengertian dan hiburan dari anaknya. Hal ini dapat menambah tekanan dan stres yang dialami anak.
Tidak sedikit juga dari anak-anak yang menyalahkan diri mereka sendiri atas konflik yang dialami orang tua. Banyak dari mereka bahkan memikul tanggung jawab untuk mempersatukan atau sekedar menjadi penengah di hubungan orang tuanya, sehingga dapat menimbulkan stres tambahan dan menjadi sebuah luka yang dapat terbawa sampai dewasa.
Selain perceraian, beberapa faktor lain juga dapat memicu trauma lintas generasi, seperti kekerasan dalam rumah tangga, komunikasi yang buruk, ketidakhadiran orang tua secara emosional, dan masalah financial. Semua kondisi ini menciptakan pola yang tidak sehat di dalam keluarga dan berisiko terulang kembali di generasi berikutnya.
Sayangnya, pola trauma ini masih sering terjadi tanpa disadari. Anak-anak yang tumbuh di dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik biasanya menganggap pola komunikasi atau hal-hal buruk yang terjadi dalam keluarga adalah hal yang normal. Kemudian ketika dewasa, mereka tanpa sadar mengulangi pola tersebut dalam keluarga mereka atau justru menghindari pernikahan karena takut terjebak dalam pola yang sama.
Namun, kini semakin banyak Gen Z yang mulai peduli dan melek terhadap kesehatan mental, sehingga peluang untuk memutus pola trauma lintas generasi semakin besar. Seperti yang dilansir dari KlikDokter, Psikolog Iswan Saputro menjelaskan langkah-langkah untuk memutus trauma lintas generasi.
Pertolongan dari psikolog atau konselor dapat membantu seseorang untuk lebih memahami akar luka yang dialami keluarganya dan menemukan cara yang sehat untuk menyelesaikannya.
Belajar menyampaikan perasaan dengan jelas sekaligus mendengarkan secara empatik sangat penting dalam keluarga, dengan begitu akan membangun pola komunikasi yang sehat dan mencegah kesalahpahaman.
Terkadang pulih dari pengalaman pahit tidak bisa dilakukan sendirian. Jadi kehadiran keluarga, teman, ataupun saudara akan memberikan rasa aman serta dorongan emosional yang membantu proses penyembuhan.
Mengelola tekanan dan stres yang diakibatkan konflik keluarga sebaiknya melalui aktivitas positif seperti olahraga, menulis, atau sekedar jalan-jalan untuk menyalurkan emosi.
Masalah ekonomi memang kerap menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga, dengan perencanaan keuangan yang matang, keluarga bisa merasa lebih tenang.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
