
Banyak orang terlihat bahagia di luar, tetapi menyimpan penyesalan di dalam hati./Freepik.
JawaPos.com - Dari luar, sebagian orang tampak memiliki hidup yang sempurna — karier yang mapan, keluarga yang harmonis, dan pencapaian yang patut dibanggakan. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada lapisan tipis yang menutupi rasa kecewa, kerinduan, atau penyesalan yang tidak pernah mereka akui secara terbuka.
Penyesalan tidak selalu datang dalam bentuk tangisan atau kemarahan. Ia sering bersembunyi di balik candaan, kesibukan, atau bahkan sikap mendukung orang lain. Dan yang lebih menarik, penyesalan ini dapat membentuk kebiasaan tertentu yang diam-diam memberi sinyal kepada orang di sekitar bahwa ada sesuatu yang tidak selesai di hati mereka.
Dilansir dari laman Your Tango, artikel ini akan membahas 11 kebiasaan halus yang sering dimiliki orang-orang yang diam-diam menyesali pilihan hidupnya, dilengkapi penjelasan psikologis dan strategi praktis untuk membantu mereka (atau Anda) menemukan kembali rasa damai dalam hidup.
1. Meremehkan Pencapaian Sendiri
Banyak orang yang memiliki prestasi luar biasa justru memilih untuk mengecilkan atau mengabaikannya. Mereka akan mengatakan, "Ah, itu kebetulan saja" atau "Itu bukan apa-apa" meskipun jelas bahwa pencapaian tersebut membutuhkan usaha dan kemampuan yang besar.
Mengapa Ini Terjadi?
Menurut penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology, orang yang merasa hidupnya menyimpang dari jalur yang diinginkan cenderung mengembangkan narrative self-sabotage. Mereka enggan mengakui keberhasilan karena keberhasilan tersebut tidak selaras dengan impian asli yang pernah mereka miliki.
Contoh Kasus Nyata
Seorang profesional yang bercita-cita menjadi seniman mungkin berhasil menjadi manajer sukses di perusahaan besar, namun ia akan terus berkata, "Kalau saja aku dulu berani mengejar seni, ini semua tidak ada artinya."
Solusi
Buat jurnal pencapaian setiap bulan.
Latih diri untuk mengucapkan "Terima kasih" ketika menerima pujian, tanpa disertai pembelaan.
Fokus pada nilai yang dibawa pencapaian tersebut, bukan hanya labelnya.
2. Mengalihkan Pembicaraan dari Momen Penting dalam Hidup
Bagi sebagian orang, pertanyaan tentang pernikahan, karier impian, atau rencana besar bisa menjadi pemicu rasa sakit. Alih-alih menjawab, mereka akan segera mengubah topik.
Psikologi di Baliknya
Ini adalah bentuk avoidance coping — strategi menghindari percakapan yang berpotensi memunculkan emosi negatif. Teori perbandingan sosial menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa "tertinggal" dari standar kelompok, ia cenderung menghindari pembahasan tersebut demi menjaga kestabilan emosinya.
Dampak Jangka Panjang
Penghindaran terus-menerus dapat membuat seseorang merasa terisolasi dan sulit menjalin hubungan yang dalam, karena banyak aspek hidup yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Langkah Perbaikan
Latih diri untuk menjawab secara singkat tetapi tidak defensif.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
