
Seorang pelari maraton menunjukkan ekspresi lega dan lelah saat melewati garis finis, menandai pencapaian fisik dan emosional yang luar biasa. (Freepik)
JawaPos.com - Berlari maraton merupakan tantangan fisik luar biasa yang menguji batas kekuatan tubuh manusia. Di balik euforia saat mencapai garis finis, ada serangkaian perubahan dramatis yang terjadi di dalam tubuh. Perubahan ini memengaruhi segalanya, dari tingkat energi hingga sistem imun.
Melansir dari Geediting.com Minggu (3/8), penting sekali untuk memahami proses ini sebelum atau sesudah maraton. Pemahaman tersebut dapat membantu pelari mempersiapkan diri lebih baik dan memastikan pemulihan optimal. Ini adalah delapan hal yang terjadi pada tubuh Anda saat berlari maraton.
1. Level Energi Akan Menurun Drastis
Maraton adalah kegiatan yang paling menguras energi secara menyeluruh. Tubuh Anda menjadi mesin pembakar energi, pertama-tama menggunakan glukosa dan kemudian glikogen otot. Jika Anda tidak mengonsumsi kalori selama lari, tubuh akan kehabisan bahan bakar.
Hal ini dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai "hitting the wall" atau "bonking," membuat pelari merasa sangat kelelahan.
2. Terjadi Penurunan Tingkat Hidrasi
Dehidrasi adalah tantangan terbesar selama maraton, karena tubuh kehilangan banyak cairan. Penurunan cairan tubuh ini bisa sangat berbahaya, memengaruhi kinerja dan kesehatan. Kekurangan cairan ini menyebabkan konsentrasi elektrolit dalam tubuh meningkat.
Penting untuk tetap terhidrasi dengan baik, karena dehidrasi serius bisa berujung pada masalah kesehatan.
3. Otot Mengalami Kerusakan Mikroskopis
Setiap langkah selama maraton memberikan tekanan besar pada otot-otot kaki. Hal ini menyebabkan robekan mikroskopis pada serat otot. Kondisi ini mungkin terdengar mengkhawatirkan, tetapi merupakan bagian normal dari latihan fisik intensif.
Robekan ini adalah alasan mengapa otot terasa sakit setelah lari. Tubuh akan memperbaiki otot, menjadikannya lebih kuat dari sebelumnya.
4. Jantung dan Paru-paru Bekerja Ekstra
Maraton adalah latihan kardiovaskular yang luar biasa, memacu jantung memompa lebih banyak darah beroksigen. Paru-paru juga bekerja lembur untuk memastikan ketersediaan oksigen dalam aliran darah. Seluruh sistem ini bekerja keras untuk memasok kebutuhan tubuh.
Peningkatan denyut jantung ini membantu otot menerima oksigen yang dibutuhkan agar tetap aktif.
5. Muncul Respon Imun yang Melemah

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
