Menghindari konflik mungkin membuat tenang sesaat. (dok. Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah kamu menghindar saat ada ketegangan kecil? Entah itu membalas kritik, menegur rekan, atau mengatakan “tidak” pada permintaan yang tidak nyaman. Banyak yang memilih diam karena berpikir itu lebih aman. Tapi tahukah kamu, menghindari konflik langsung justru bisa menciptakan stres, emosi terpendam, dan hubungan yang rapuh secara perlahan?
Menurut penjelasan dari Healthline oleh Cindy Lamothe, konflik dihindari oleh sebagian orang bukan karena sifat malas, melainkan muncul dari ketakutan emosional yang dalam. Banyak orang tumbuh di lingkungan yang menyebarkan pesan bahwa menyuarakan kebutuhan bisa dianggap agresif atau menimbulkan masalah. Akhirnya, mereka memilih diam demi menjaga “kedamaian”, padahal ketidaknyamanan sejatinya bertambah seiring waktu.
Selain itu, Menurut tinjauan teori psikologi, konflik sering dihindari sebagai bentuk people-pleasing behavior karena ketakutan akan penolakan, rendahnya harga diri, atau kecemasan saat dihadapkan pada konfrontasi langsung. Berikut penyebab utama menghindari konflik:
Jika sejak kecil konflik dihadapkan dengan reaksi emosional berlebihan atau ditutup-tutupi, kita belajar bahwa menyuarakan diri adalah berisiko. Akhirnya kita membentuk pola batin untuk menghindar agar “aman”.
Banyak orang mundur saat konflik muncul karena takut dikucilkan atau ditolak. Mereka lebih memilih berdiam agar tidak disalahkan atau dianggap menyusahkan.
Saat merasa pendapat tidak bernilai, orang cenderung menarik diri dalam diskusi. Perfeksionisme membuat mereka takut salah dan akhirnya tidak bersuara sama sekali.
Di beberapa kebudayaan kolektivis, harmoni lebih diutamakan daripada ekpresi individu. Membuka konflik bisa dianggap tabu atau tidak sopan, sehingga diam menjadi pilihan default.
Dampak Negatif jika Konflik Selalu Dihindari
Cara Menghadapi Konflik secara Sehat
Menghindari konflik memang terasa nyaman dalam jangka pendek. Tapi di kemudian hari, itu bisa membuat stress menumpuk, hubungan kehilangan kedekatan, dan harga diri melorot. Menurut Healthline, menghindari konflik bukan malas, melainkan pertahanan karena ketakutan dan kebiasaan lama. Dengan menyadari penyebabnya dan bentuk komunikasi yang sehat, kita bisa belajar mengatakan “iya” pada diri sendiri, terlepas dari perbedaan atau ketegangan yang muncul.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
