
Ilustrasi figur yang merepresentasikan generasi lebih tua, mungkin sedang memikirkan ide-ide lama./Freepik
JawaPos.com - Generasi Baby Boomer seringkali punya keyakinan yang sulit diubah. Mereka berpegang teguh pada ide-ide tertentu, bahkan ketika sudah terbukti salah berkali-kali. Memang wajar bagi setiap manusia punya sifat keras kepala.
Namun, kaum Boomer kadang membawa hal ini ke tingkat berbeda dalam menghadapi informasi baru.
Melansir dari Geediting.com Selasa (15/7), ada delapan keyakinan kuno yang mereka enggan lepaskan. Padahal, semua itu telah terbantahkan secara menyeluruh.
Berikut adalah delapan keyakinan yang masih dipegang teguh oleh generasi Boomer:
Infinitif Terpisah Adalah Dosa Gramatikal
Infinitif terpisah adalah "aturan" tata bahasa yang menjadi perdebatan. Boomer diajari untuk tidak pernah memisahkan infinitif seperti "to go" atau "to write". Namun, para ahli bahasa modern telah membantah keyakinan ini. Memisahkan infinitif tidak merusak kalimat atau maknanya.
Teknologi Merusak Interaksi Manusia
Banyak Boomer percaya bahwa teknologi adalah akhir dari interaksi manusia yang bermakna. Mereka mungkin menganggap penggunaan ponsel merusak komunikasi tatap muka. Faktanya, teknologi hanya mengubah cara kita berkomunikasi, bahkan membuka jalan baru.
Manusia Hanya Menggunakan 10% Otak
Keyakinan ini sering diulang oleh Boomer, menyatakan bahwa manusia hanya menggunakan 10% otaknya. Mereka percaya 90% potensi belum terungkap dan bisa dimanfaatkan. Namun, neuroscience telah membantah ini, sebab setiap bagian otak aktif sepanjang hari.
Sulit Mengajari Anjing Tua Trik Baru
Pepatah ini sering dijadikan alasan bagi Boomer untuk tidak beradaptasi dengan hal baru, seperti teknologi modern. Keyakinan di baliknya adalah kemampuan belajar dan beradaptasi berkurang seiring usia. Penelitian menunjukkan otak mampu belajar dan beradaptasi pada usia berapa pun.
Pelanggan Selalu Benar
Ini adalah keyakinan klasik yang sering dilontarkan oleh Boomer, bahwa pelanggan selalu benar. Meskipun penting untuk mendengarkan masukan pelanggan, pendekatan ini dapat menciptakan dinamika tidak sehat. Kebutuhan pelanggan harus seimbang dengan kebutuhan bisnis dan karyawan.
Jam Kerja Lebih Lama Berarti Lebih Produktif

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
