JawaPos.com-Ketika kebanyakan orang saat ini mendapatkan informasi dari media sosial, aplikasi berita, atau notifikasi push di ponsel mereka, ada sekelompok orang yang tetap setia menonton berita kabel setiap hari. Terlihat kuno? Tidak juga. Psikologi justru melihat ini sebagai cerminan dari karakter dan nilai yang unik.
Pertanyaannya, mengapa mereka tetap bertahan dengan cara lama ini? Bukan karena gagap teknologi, tapi karena cara ini memberikan mereka sesuatu yang lebih dari sekadar berita. Orang-orang ini bukan hanya penonton biasa; mereka adalah pencari makna, pemelihara rutinitas, dan pengemban nilai-nilai otentik.
Dilansir dari laman Geediting, mari kita bedah lebih dalam, 7 sifat psikologis yang menonjol dari para penonton berita kabel harian, dan bagaimana ciri-ciri ini mencerminkan kekuatan batin serta pendekatan hidup yang lebih berakar.
1. Haus Akan Informasi yang Komprehensif dan Mendalam
Di dunia yang dikuasai oleh headline singkat dan informasi kilat, pemirsa berita kabel justru mencari kedalaman. Mereka tidak puas dengan sepotong informasi—mereka ingin memahami latar belakang, konteks, dan implikasi dari sebuah peristiwa.
Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata:
“Satu-satunya orang yang terdidik adalah orang yang telah belajar bagaimana belajar dan berubah.”
Inilah yang menjadi pembeda mereka. Mereka tidak ingin hanya tahu apa yang terjadi, tetapi juga mengapa dan bagaimana.
Karakter ini menunjukkan bahwa mereka memiliki:
Curiosity (rasa ingin tahu) tinggi
Kecenderungan belajar seumur hidup
Kemampuan untuk melihat berbagai sudut pandang sebelum membentuk opini
Di balik layar TV itu, mereka sebenarnya sedang mendidik diri mereka sendiri secara aktif.
2. Sangat Berorientasi pada Rutinitas dan Struktur
Banyak dari pemirsa berita kabel memiliki kebiasaan menonton pada waktu yang sama setiap hari, misalnya jam 6 atau 9 malam. Ini bukan sekadar menonton—ini adalah bagian dari ritual harian.
Rutinitas ini memberi:
Stabilitas emosional
Rasa kontrol dalam dunia yang kacau
Kenyamanan psikologis dari kebiasaan yang dapat diprediksi
Seperti halnya seseorang yang setiap pagi minum kopi di tempat yang sama, menonton berita pada waktu tetap memberi jangkar mental yang menenangkan. Dalam psikologi, ini disebut sebagai ritual coping—strategi untuk mengatasi stres dan ketidakpastian hidup.
3. Memiliki Standar Tinggi terhadap Keaslian dan Kepercayaan Informasi
Di tengah lautan informasi di internet, hoaks dan misinformasi menyebar lebih cepat daripada fakta. Pemirsa berita kabel cenderung lebih selektif dalam memilih sumber informasi. Mereka menaruh kepercayaan pada institusi yang sudah lama berdiri dan memiliki reputasi kredibel.
Menurut Abraham Maslow:
“Perubahan sejati dimulai dari kesadaran diri.”
Mereka memilih berita kabel karena:
Tayangannya disusun oleh tim editorial profesional
Ada mekanisme verifikasi dan tanggung jawab publik
Tidak bergantung pada algoritma viral atau klikbait
Sikap ini mencerminkan kecerdasan informasi—kemampuan untuk menyaring mana yang fakta dan mana yang manipulasi. Mereka sangat peduli pada kebenaran, bahkan jika berita tersebut tidak menyenangkan.
4. Kemampuan Analitis yang Tajam dan Kritis
Menonton berita kabel dengan rutin memperkenalkan pemirsa pada berbagai analisis, opini ahli, serta perdebatan terbuka. Ini membentuk pola pikir analitis dan kritis. Mereka terbiasa:
Mengidentifikasi bias
Mempertanyakan narasi
Membedakan fakta dari opini
Setiap hari mereka melatih otot kognitif untuk berpikir logis dan terstruktur. Ini adalah bentuk mental exercise yang sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan, baik di ranah pribadi maupun profesional.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai "elaborative processing", yaitu pemrosesan informasi secara mendalam, yang berkaitan erat dengan tingkat kecerdasan dan kestabilan emosi.
5. Memiliki Empati dan Kesadaran Sosial yang Tinggi
Saat seseorang menonton berita tentang perang, bencana alam, atau perjuangan orang di belahan dunia lain, ada satu hal yang terbangun: empati.
Psikolog Daniel Goleman menyebut empati sebagai:
“Landasan dari semua kompetensi sosial yang penting.”
Pemirsa berita kabel yang konsisten biasanya:
Lebih sadar akan kehidupan orang lain di luar lingkup pribadinya
Lebih mudah tergerak untuk membantu
Lebih mampu memahami perspektif yang berbeda
Empati ini menjadikan mereka pendengar yang baik, pengambil keputusan yang adil, dan mitra kerja yang penuh pengertian.
6. Menikmati Kesendirian dan Kedalaman Pemikiran
Di saat banyak orang menonton berita sambil scrolling ponsel, pemirsa berita kabel cenderung meluangkan waktu khusus untuk menyimak berita secara khusyuk. Ini adalah momen tenang, reflektif, dan menyendiri.
Psikolog Carl Jung mengatakan:
“Kesendirian bukan tentang kesepian. Ia adalah ruang di mana ide-ide tumbuh.”
Bagi pemirsa berita kabel, waktu menonton bukan hanya untuk mendapat informasi—tetapi juga untuk merenungkan dan menyusun pemahaman pribadi.
Sikap ini menunjukkan bahwa mereka:
Tidak takut sendiri
Menghargai momen refleksi pribadi
Lebih intuitif dan introspektif
Mereka memahami bahwa kesunyian kadang diperlukan untuk bisa mendengar dengan jelas suara hati dan dunia.
7. Ketahanan Mental yang Kuat dalam Menghadapi Realitas
Berita tidak selalu menyenangkan. Ada bencana, konflik, ketidakadilan. Tapi para pemirsa berita kabel tidak lari dari kenyataan ini—mereka menghadapinya secara langsung.
Dalam psikologi, ini disebut sebagai resilience—kemampuan untuk:
Mengelola tekanan mental
Tetap tenang dalam ketidakpastian
Beradaptasi dengan situasi sulit
Pemirsa berita kabel memiliki ketahanan batin yang kuat karena:
Mereka terbiasa melihat kenyataan pahit secara terus-menerus
Mereka memprosesnya dengan tenang, tidak reaktif
Mereka belajar menyeimbangkan antara kepedulian dan ketegasan
Mereka tahu, dunia tidak sempurna, tapi masih layak diperjuangkan.
Banyak orang mungkin memandang menonton berita kabel setiap hari sebagai kebiasaan biasa. Tapi jika kita lihat dari sudut psikologi, kebiasaan ini mencerminkan serangkaian sifat dan nilai yang sangat kuat dan bermakna.
Orang-orang ini mengajarkan kita bahwa tetap terhubung dengan realitas, menjaga akal sehat, dan peduli pada kebenaran bukan hal kuno—tapi kekuatan langka di zaman yang serba cepat dan dangkal.
Lain kali Anda melihat seseorang asyik menyimak berita kabel di sudut ruang keluarga, ingatlah—mereka mungkin sedang memelihara jiwa mereka, bukan sekadar mencari informasi.
Jika Anda termasuk orang yang masih menyukai berita kabel, mungkin kini Anda mengerti alasannya lebih dalam. Dan jika belum, mungkin ini saatnya mencoba mendekat pada sumber informasi yang lebih stabil, netral, dan mendalam.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat Anda tahu, tapi seberapa dalam Anda memahami. Dan pemahaman itu—seperti kata pepatah Jawa—adalah cahaya yang tak pernah padam.