Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Juli 2025 | 02.36 WIB

Hati-Hati, Terlalu Sering Berfoto Ternyata Bisa Bikin Ingatan Jadi Lemah, Berikut Penjelasan Ilmiahnya

Seorang pria berdiri di tengah jalan sambil memotret pemandangan dengan ponselnya, sebuah kebiasaan umum di era digital. (Dok. Canva) - Image

Seorang pria berdiri di tengah jalan sambil memotret pemandangan dengan ponselnya, sebuah kebiasaan umum di era digital. (Dok. Canva)

JawaPos.com – Apakah Anda termasuk orang yang gemar mengabadikan setiap momen dengan kamera ponsel, dari makanan siang hari hingga langit sore yang cantik? Hati-hati, kebiasaan ini ternyata bisa berdampak pada daya ingat Anda.

Dikutip dari laporan ABC News Australia, para ahli mulai mengamati bagaimana kebiasaan merekam kehidupan sehari-hari melalui gawai, mulai dari foto, data olahraga, hingga rekaman tidur, ternyata dapat mengubah cara kerja otak manusia.

Fenomena ini disebut sebagai lifelogging, yakni kegiatan merekam aspek kehidupan sehari-hari secara digital. Meski terdengar positif, penelitian menunjukkan bahwa tidak semua dampaknya baik untuk ingatan.

Menurut Julia Soares, peneliti dari Mississippi State University yang fokus pada dampak teknologi digital terhadap memori, kebiasaan mengambil foto justru bisa membuat kita lebih sulit mengingat momen yang kita dokumentasikan.

Sebuah efek yang disebut photo-taking impairment effect menjadi sorotan utama dalam studi ini. Dalam sejumlah eksperimen, peserta dibagi menjadi dua kelompok: satu mengambil foto saat mengunjungi museum, dan satu lagi hanya menikmati karya seni tanpa kamera. Hasilnya? Kelompok yang tidak mengambil foto lebih mampu mengingat detail visual dari karya seni yang mereka lihat, seperti bentuk bulan dalam lukisan The Starry Night karya Van Gogh.

“Dalam beberapa studi kami, mengambil foto justru melemahkan ingatan terhadap objek yang difoto dibandingkan objek yang tidak difoto,” ujar Soares. Hal ini mungkin disebabkan oleh perhatian yang teralihkan saat mengambil gambar, sehingga otak tidak benar-benar menyimpan pengalaman tersebut secara mendalam.

Namun, bukan berarti foto tak berguna. Jika digunakan secara sadar sebagai alat bantu, foto bisa menjadi pemicu ingatan yang efektif. Kuncinya ada pada kesadaran dan niat saat mengambil gambar. Soares sendiri mengaku kini lebih berhati-hati: “Saya selalu bertanya, ‘Apa yang ingin saya ingat dari foto ini?’.”

Lifelogging tidak hanya berkutat pada foto. Kini, banyak orang juga merekam data kesehatan, kebugaran, hingga pola tidur mereka lewat aplikasi atau gelang pintar. Salah satunya adalah Kunal Kalro, seorang pria yang mulai mencatat data kesehatannya setelah ayahnya meninggal karena penyakit jantung.

Kunal tak sekadar menyimpan data, tapi juga menggunakannya untuk mengubah pola hidup. Ia bisa melihat hubungan antara konsumsi kafein dan kualitas tidurnya, serta membangun kebiasaan sehat berdasarkan data yang dikumpulkan. “Bagi saya, ini bukan soal ingatan, tapi soal menghadirkan kesadaran. Saya merasa lebih selaras dengan tubuh saya,” katanya.

Soares pun menekankan bahwa data akan sia-sia jika tidak digunakan dengan cermat. “Kalau Anda tidak memperhatikan data, maka semuanya hanya akan menumpuk tanpa makna,” jelasnya.

Selain lifelogging, kemudahan akses internet lewat ponsel juga memengaruhi cara kita menilai pengetahuan diri sendiri. Soares menemukan bahwa setelah menggunakan mesin pencari seperti Google, orang cenderung merasa lebih pintar dari yang sebenarnya. Mereka sering keliru membedakan antara pengetahuan yang benar-benar ada di otak dengan informasi yang bisa diakses dengan cepat melalui internet.

Efek ini bahkan bisa meningkatkan kepercayaan diri palsu dalam mengingat dan menjawab pertanyaan di masa depan, meskipun sebenarnya kemampuan kognitif mereka tidak berubah.

Meskipun temuan-temuan ini menunjukkan sisi lain dari teknologi digital, Soares tidak menyarankan kita untuk langsung menyingkirkan ponsel. Menurutnya, teknologi jelas punya manfaat, asal digunakan dengan bijak dan sadar.

“Teknologi ini muncul dan bertahan karena memang punya kegunaan,” katanya. “Yang penting adalah memberi pemahaman kepada orang tentang bagaimana memanfaatkan teknologi ini dengan efektif bersama sistem kognitif mereka.”

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore