Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 23.22 WIB

8 Perilaku yang Muncul Akibat Pengabaian di Masa Kecil Bukan karena Kepribadianmu

8 Perilaku yang Muncul Akibat Pengabaian di Masa Kecil Bukan karena Kepribadianmu - Image

8 Perilaku yang Muncul Akibat Pengabaian di Masa Kecil Bukan karena Kepribadianmu

JawaPos.com - Beberapa kebiasaan bukanlah bagian dari kepribadian melainkan taktik bertahan hidup yang tertinggal karena pernah merasa tidak terlihat. Membangun identitas memang tidak mudah, apalagi jika kebutuhan dasar di masa kecil tidak pernah didengar.

Pengabaian mengajarkan sejumlah keterampilan bertahan hidup yang, seiring waktu, terlihat seperti kebiasaan. Masalahnya, keterampilan tersebut bisa mengambil alih kehidupan dewasa.

Dilansir dari VegOut, jika beberapa perilaku di bawah ini terdengar familiar, ingatlah: ini bukan sifat tetap. Ini hanyalah respons yang pernah dipelajari. Dan semua yang dipelajari bisa juga ditinggalkan.

1. Terlalu sering meminta maaf

Apakah kamu refleks mengatakan "maaf" bahkan ketika seseorang menabrakmu?

Permintaan maaf spontan bukan semata bentuk kesopanan. Bagi banyak orang, itu adalah respons lama untuk menjaga perdamaian.

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan tempat kesalahan dibalas dengan kemarahan belajar untuk mengambil tanggung jawab lebih dulu demi meredakan situasi.

Hingga akhirnya, mereka terbiasa meminta maaf bahkan untuk hal-hal kecil seperti Wi-Fi lambat atau kartu ATM yang memproses terlalu lama.

2. Sulit meminta bantuan

Pengabaian sering kali membuat seseorang merasa bahwa memiliki kebutuhan berarti menjadi beban. Maka dari itu, kamu pun belajar untuk diam, menyelesaikan semuanya sendiri, dan menekan keinginan untuk ditolong.

Hasilnya? Di usia dewasa, kamu bisa menjadi teman yang selalu berkata, "Aku baik-baik saja, aku bisa sendiri," padahal diam-diam merasa kewalahan.

Mulailah dari yang kecil seperti bertanya, “Bisakah kamu bantu menahan pintu?” untuk membuktikan bahwa ketakutan akan penolakan sering kali tak terbukti.

3. Membeku saat menghadapi konflik

Ada yang melawan, ada yang lari dan ada juga yang membeku. Anak-anak yang terbiasa diabaikan kerap memilih diam dan tak bergerak ketika situasi tegang muncul.

Respons itu terbawa hingga dewasa. Saat ketegangan meningkat, tubuh seakan berhenti bekerja. Mengangguk tanpa suara di rapat, sementara pikiran kosong, bukanlah tanda kelemahan melainkan cara tubuh melindungi diri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore