Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 01.37 WIB

Orang-orang yang Kesulitan Terhubung Secara Mendalam dengan Orang Lain Seringkali Terjebak dalam 8 Kebiasaan Diam Ini

ilustrasi (Pexels.com) - Image

ilustrasi (Pexels.com)

JawaPos.com - Setiap orang mendambakan koneksi. Bukan sekadar yang terlihat dari luar, tapi yang benar-benar nyata. Koneksi yang membuatmu merasa diperhatikan, aman, dan dipahami.

Namun jika hubungan terasa selalu dangkal, atau orang-orang tampak lebih terbuka pada yang lain tapi tertutup padamu, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri. 

Karena sering kali, penghalang terbesar bukan sesuatu yang keras atau mencolok melainkan halus, sunyi, dan nyaris tak terlihat.

Dilansir dari VegOut, berikut delapan kebiasaan diam yang tanpa sadar bisa menghambat terciptanya ikatan yang lebih dalam dan bermakna. 

Jika beberapa di antaranya terasa familiar, kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan.

1. Menahan diri secara emosional, bahkan ketika merasa aman

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak menunjukkan emosi adalah bentuk kekuatan. Seolah-olah jika tetap terlihat tenang dan "baik-baik saja", maka akan lebih mudah disukai, lebih bisa diandalkan, dan tidak membebani siapa pun.

Namun, menahan diri terlalu lama justru bisa membangun tembok emosional yang menghalangi koneksi sejati.

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Brené Brown, “Koneksi adalah alasan kita ada di sini. Itulah yang memberi tujuan dan makna bagi hidup kita.” Dan koneksi tidak bisa hadir tanpa kerentanan.

Jika selalu berusaha terlihat kuat, bahkan ketika sebenarnya rapuh, bisa jadi itu adalah alasan mengapa orang merasa sulit untuk benar-benar mendekat.

2. Terlalu banyak menganalisis setelah berbicara

Pernah merasa gelisah setelah berbicara, memutar ulang percakapan di kepala, bertanya-tanya: "Apakah aku terlalu banyak bicara? Apakah lelucon itu aneh? Haruskah aku tidak mengatakan hal itu?"

Kebiasaan ini sering kali muncul dari kecemasan atau kurangnya rasa percaya diri. Alih-alih hadir sepenuhnya dalam momen, fokus malah tertuju pada penilaian terhadap diri sendiri.

Seperti yang dikemukakan oleh psikolog Dr. Ellen Hendriksen, orang dengan kecemasan sosial cenderung terlalu sibuk mengamati dirinya sendiri, sehingga tidak benar-benar hadir dalam interaksi.

Ironisnya, orang lain bisa menangkap ketegangan itu. Dan bukannya merasa terhubung, justru merasa ada jarak.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore