Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Juni 2025 | 21.05 WIB

Sering Menunda Pekerjaan Bukan Berarti Malas, Ini Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Menunda

Ilustrasi seseorang yang suka menunda pekerjaan tetapi selalu menyelesaikannya tepat waktu. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang suka menunda pekerjaan tetapi selalu menyelesaikannya tepat waktu. (Freepik)

JawaPos.com – “Nanti saja,” adalah dua kata sederhana yang akrab dalam keseharian kita. Entah itu tugas kampus, laporan kantor, atau urusan pribadi, semua bisa tertunda hanya karena keinginan sesaat untuk membuka email, merapikan file komputer, atau sekadar tidur lima menit lagi.

Kebiasaan untuk menunda pekerjaan atau istilah bahasa inggrisnya procrastinating, sering kali dianggap sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya disiplin diri. Akan tetapi, menurut Nic Voge, seorang pendidik sekaligus Senior Associate Director di McGraw Center for Teaching and Learning, Princeton University, hal ini tidak selalu benar.

Dalam sebuah sesi TEDxPrinceton, Voge menyampaikan bahwa procrastination atau kebiasaan menunda bukanlah aib atau cacat karakter. “Ini bukan kelemahan. Prokrastinasi justru adalah bentuk perlindungan diri yang sangat manusiawi,” ujarnya, dikutip dari laporan TED Ideas berjudul Tired of procrastinating? To overcome it, take the time to understand it.

Bayangkan skenario berikut: malam hari di kamar asrama, esai harus dikumpulkan besok. Laptop sudah terbuka, niat sudah terkumpul. Namun tiba-tiba, Anda memutuskan untuk membuka email "sebentar saja". Tahu-tahu, 45 menit berlalu, dan akhirnya Anda memutuskan untuk tidur karena merasa lelah. Esok harinya, pola ini pun terulang. Situasi ini mungkin terasa akrab bagi banyak orang, tak hanya mahasiswa, tetapi juga para pekerja dan profesional.

Menurut laporan dari TED Ideas, banyak orang menyalahkan diri sendiri karena menunda, merasa malas, lemah, atau tidak mampu. Namun Voge menekankan bahwa procrastination bukanlah cacat karakter. Sebaliknya, hal ini bisa dipahami dan diprediksi jika kita melihat dinamika motivasi yang mendasarinya.

Voge menjelaskan bahwa akar dari kebiasaan menunda seringkali berkaitan dengan harga diri. Orang yang gemar menunda biasanya memiliki keyakinan bahwa performa = kemampuan = nilai diri. Ketika kita takut akan hasil yang buruk, kita secara tidak sadar menghindar sebagai bentuk perlindungan diri. Jika hasil akhirnya buruk, maka kita bisa menyalahkan “kurangnya waktu” atau “terlalu sibuk”, bukan kurangnya kemampuan. Ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan terhadap rasa takut gagal.

Kondisi ini sering membuat seseorang terjebak. Di satu sisi, ada dorongan untuk menyelesaikan tugas. Di sisi lain, ada rasa takut akan hasil yang mengecewakan. Alhasil, muncul rasa gelisah, susah tidur, tapi juga sulit bekerja.

Lantas, bagaimana cara keluar dari siklus ini? Voge menyarankan tiga strategi utama:

1. Kenali Apa yang Terjadi

Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda sedang menunda dan memahami alasannya. Menurut Voge, menyadari bahwa penundaan berasal dari keinginan untuk melindungi harga diri akan membantu kita menghadapinya dengan lebih jernih. Kenali juga pola-pola khas yang sering Anda lakukan saat menunda, seperti membersihkan kamar, mengecek media sosial, atau bahkan mencuci baju.

2. Timbang Ulang Alasan Anda

Tiap tindakan dipengaruhi oleh dua hal: motivasi untuk mendekat (approach) dan motivasi untuk menghindar (avoid). Jika motivasi untuk menghindari (biasanya karena takut gagal) lebih besar, maka kita cenderung menunda. Untuk menyeimbangkannya, Voge menyarankan agar kita mengingat kembali tujuan lebih besar dari tugas tersebut dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil agar terasa lebih ringan.

3. Tantang Keyakinan Lama

Terakhir, ubah cara pandang Anda. Nilai diri seseorang tidak seharusnya diukur dari hasil atau performa. “Kita berharga bukan karena nilai atau pencapaian, tapi karena kualitas kemanusiaan kita: seperti kebaikan, kepedulian, dan kerentanan,” ujar Voge.

Dengan kata lain, jangan langsung melabeli menunda dengan kata malas. Namun, coba untuk memahami akar emosional di balik kebiasaan menunda. Dengan begitu, kita bisa membangun pendekatan yang lebih sehat, bukan hanya menyelesaikan tugas, tapi juga merawat cara pandang terhadap diri sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore