Tanda media sosial buat kamu lebih cemas dari sebelumnya menurut psikologi./Freepik.
JawaPos.com – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, tetapi tanpa disadari, penggunaannya yang berlebihan bisa berdampak negatif pada kesehatan mental seperti rasa cemas.
Menurut psikologi, media sosial dapat memicu perasaan cemas, terutama ketika seseorang terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, terobsesi dengan validasi digital, atau merasa takut ketinggalan informasi (FOMO).
Dilansir dari geediting.com pada Rabu (23/4), diterangkan bahwa terdapat tujuh tanda media sosial membuat kamu lebih cemas dari sebelumnya menurut psikologi.
Perangkap membandingkan diri melalui media sosial telah menjadi fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan digital saat ini. Setiap kali membuka feed media sosial, kita disuguhi berbagai konten tentang teman yang sedang berlibur mewah, rekan kerja yang mendapat promosi, atau teman seusia yang sudah membeli rumah pertama mereka.
Meski terlihat menyenangkan, konten-konten tersebut seringkali hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan realitas sehari-hari yang penuh tantangan dan hal-hal biasa.
Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing dan apa yang terlihat di media sosial hanyalah highlight reel yang telah dikurasi dengan cermat.
Perasaan bahagia yang muncul ketika postingan mendapat banyak like atau share telah menjadi fenomena umum di era digital. Tombol like yang sebenarnya hanya simbol dukungan digital telah berubah menjadi tolok ukur nilai diri bagi sebagian orang.
Sistem notifikasi yang terus-menerus membuat kita obsesif mengecek ponsel setiap beberapa menit. Platform media sosial sengaja dirancang untuk mengeksploitasi kebutuhan akan pengakuan ini, yang pada akhirnya dapat memicu kecemasan, stres, dan menurunkan kepercayaan diri.
Kebiasaan meraih ponsel di setiap kesempatan telah mengubah cara kita menjalani hidup sehari-hari. Alih-alih menikmati momen yang sedang berlangsung, pikiran kita justru tenggelam dalam dunia maya, memperhatikan kehidupan orang lain atau merencanakan konten yang akan dibagikan.
Kebiasaan ini tidak hanya mengganggu kesehatan mental tetapi juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir dalam setiap momen berharga. Mengatur batasan waktu penggunaan media sosial menjadi penting untuk mengembalikan keseimbangan hidup.
Media sosial menawarkan koneksi semu yang seringkali membuat kita merasa lebih terisolasi. Memiliki ratusan atau bahkan ribuan “teman” dan “pengikut” di dunia maya tidak menjamin adanya hubungan yang bermakna.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
