Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 April 2025 | 04.08 WIB

Lebih dari Pelukan: Orang yang Jarang Dipeluk saat Kecil Sering Kali Membawa 7 Pola Emosi ini Hingga Dewasa

Ilustrasi tujuh pola emosi yang menjelaskan mengapa hilangnya pelukan dapat memiliki efek yang bertahan lama. - Image

Ilustrasi tujuh pola emosi yang menjelaskan mengapa hilangnya pelukan dapat memiliki efek yang bertahan lama.

JawaPos.com - Ada sesuatu yang ajaib tentang pelukan sederhana. Ini lebih dari sekedar dua orang yang berpelukan. Ini adalah pertukaran kehangatan, kenyamanan, dan penerimaan tanpa syarat.

Saat masih anak-anak, kasih sayang secara fisik bisa sama pentingnya bagi kesejahteraan emosional seperti halnya nutrisi yang tepat untuk kesehatan fisik. Namun, tidak semua orang tumbuh dalam rumah atau keluarga di mana pelukan merupakan hal yang umum dilakukan.

Bagi sebagian orang, ketidakhadiran lengan di sekitarnya di tahun-tahun awal pembentukan diri dapat berdampak hingga mereka dewasa. Beberapa orang mengaku menunjukkan kasih sayang terasa canggung atau asing.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh pola emosi yang menjelaskan mengapa hilangnya pelukan dapat memiliki efek yang bertahan lama.

1. Kesulitan memulai atau menerima kasih sayang fisik

Bayangkan seseorang memeluk Anda, dan Anda pun terpaku. Anda mungkin menepuk punggungnya dengan canggung atau menjauh dengan cepat. Jika Anda tumbuh tanpa sentuhan kasih sayang yang sering, Anda mungkin tidak belajar bahwa kasih sayang fisik adalah hal yang aman dan positif.

Dalam banyak budaya, berpelukan adalah cara yang wajar untuk mengatakan, "Aku peduli padamu." Namun, bagi seseorang yang tidak pernah memiliki dasar tersebut, berpelukan dapat terasa invasif atau dipaksakan.

Sebuah studi yang diterbitkan selama pandemi COVID-19 menemukan bahwa orang-orang dengan tingkat kontak kasih sayang yang rendah di masa kanak-kanak menunjukkan kecemasan yang meningkat saat menerima sentuhan saat dewasa.

2. Kemandirian kronis

Ketika pelukan dan sentuhan yang menenangkan tidak tersedia, anak-anak sering belajar menenangkan diri dengan cara lain. Mungkin berarti mengasingkan diri ke tempat yang tenang, mengalihkan perhatian dengan buku, atau memendam semua stres karena berasumsi tidak ada orang lain yang akan membantu.

Menurut Dr. Gabor Maté, pengalaman di masa awal kanak-kanak sangat memengaruhi cara kita mengatur diri sendiri saat dewasa. Tanpa kepastian yang konsisten dari pengasuh, baik secara verbal maupun fisik, anak-anak menjadi mahir mengatasi masalahnya sendiri.

Meskipun kemandirian dapat menjadi suatu kekuatan, terkadang ia tumbuh menjadi tembok emosional. Sebagai orang dewasa, individu-individu ini mungkin merasa sulit untuk bersandar pada pasangan, meminta bantuan, atau bahkan berbagi kelemahan mereka.

3. Rasa lapar yang terus menerus

Fenomena ini terkadang disebut “kelaparan kulit” atau “kelaparan sentuhan." Anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang fisik yang minim dapat berakhir dengan kehidupan dewasa yang ditandai oleh kerinduan yang tidak dapat dijelaskan untuk mendapatkan kontak fisik.

Studi yang diterbitkan dalam Comprehensive Psychoneuroendocrinology menemukan bahwa sentuhan lembut dan konsisten dapat menurunkan kortisol hormon stres dan meningkatkan hubungan emosional.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore