
Ilustrasi tujuh kebiasaan orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar secara emosional. (Pexels/Liza Summer)
JawaPos.com - Dalam hidup, ada perbedaan jelas antara kemandirian dan isolasi diri. Ketika berbicara tentang kemandirian, kita sering kali memuji kemampuan untuk berdiri sendiri, menjalani hidup tanpa terus menerus mencari bantuan.
Di sisi lain, isolasi diri memberikan gambaran yang lebih suram. Anda mendapati diri tanpa teman dekat atau keluarga yang dapat diandalkan secara emosional. Psikologi memberikan wawasan mengenai kebiasaan dari individu yang berada dalam posisi ini.
Meskipun situasi ini cukup menantang, tidak semuanya suram. Dilansir dari geediting, terdapat tujuh kebiasaan orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar secara emosional.
1. Merangkul kesendirian
Orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar sering kali sangat menghargai waktu sendiri. Bertentangan dengan kepercayaan umum, ini tidak selalu merupakan tanda kesepian atau depresi.
Meskipun kebiasaan ini mungkin tampak mengisolasi bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga dapat menjadi sarana yang ampuh untuk menemukan jati diri dan pertumbuhan pribadi.
2. Kemandirian
Orang-orang dalam situasi ini sering mengembangkan keterampilan, ketahanan, dan semacam kemandirian yang mungkin tidak dipahami atau dihargai oleh banyak orang lain. Ini tidak berarti mereka tidak mampu menerima bantuan.
Sebaliknya, mereka belajar menjalani hidup dengan mengandalkan kekuatan dan akal mereka sendiri. Jangan salah mengartikan kemandirian mereka sebagai kesombongan atau keras kepala.
Itu adalah kebiasaan yang lahir karena kebutuhan, tetapi sering kali menghasilkan rasa percaya diri dan kompetensi yang kuat.
3. Ketahanan emosional
Orang-orang ini belajar, terkadang dengan cara yang sulit, bahwa mereka perlu menjadi pemandu sorak bagi diri mereka sendiri, orang yang percaya pada mereka sendiri, dan pendukung mereka sendiri.
Hal ini tidak selalu mudah, ada saat-saat meragukan diri sendiri, saat-saat patah hati, saat-saat kelelahan yang amat sangat. Namun dalam menghadapi semuanya, mereka tetap bertahan.
Seperti yang pernah dikatakan oleh psikolog dan penyintas Holocaust Viktor Frankl, “Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.”
Orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau keluarga untuk bersandar sering kali mengembangkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi tekanan emosional dan bangkit kembali dari kekalahan pribadi.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
