Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Maret 2025 | 21.14 WIB

Perempuan yang Berakhir Selingkuh dari Pasangan Pernah Mengalami 7 Pengalaman Masa Lalu Ini Kata Psikologi

Pengalaman masa lalu perempuan yang berakhir selingkuh dari pasangan menurut psikologi - Image

Pengalaman masa lalu perempuan yang berakhir selingkuh dari pasangan menurut psikologi

JawaPos.com – Tindakan selingkuh bukan sekadar masalah ketidaksetiaan di masa kini, tetapi sering kali berakar pada pengalaman masa lalu seseorang.

Menurut psikologi, ada beberapa faktor yang dapat membentuk kecenderungan seseorang untuk selingkuh, termasuk pengalaman emosional dan hubungan yang mereka alami sebelumnya.

Pada perempuan, pengalaman masa lalu yang sulit atau penuh luka bisa berdampak pada cara mereka membangun dan mempertahankan hubungan di masa dewasa.

Lalu, pengalaman seperti apa yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang perempuan berakhir dalam perilaku selingkuh?

Dilansir dari Hack Spirit pada Jumat (28/3), diterangkan bahwa ada tujuh pengalaman masa lalu perempuan yang berakhir selingkuh dari pasangan menurut psikologi.

1. Pengaruh perselingkuhan orang tua
Latar belakang keluarga memainkan peran signifikan dalam membentuk pola perilaku seseorang di masa depan.

Kehadiran perselingkuhan di lingkungan keluarga dapat membuat perbuatan tersebut terlihat biasa atau dapat diterima secara tidak sadar.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan kasus perselingkuhan cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengulangi pola perilaku serupa di kemudian hari.

Proses psikologis yang kompleks terjadi ketika seorang anak menyaksikan perselingkuhan orang tuanya.

Mereka secara tidak langsung menerima bahwa perselingkuhan adalah bagian dari dinamika hubungan romantis.

Kondisi ini dapat melemahkan kepercayaan dan komitmen dalam sebuah relasi. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa modeling perilaku orang tua sangat berpengaruh terhadap konsep hubungan anak di masa depan.

2. Kurangnya dukungan emosional
Komunikasi emosional yang terbatas dalam keluarga dapat menimbulkan dampak mendalam pada kemampuan seseorang membina hubungan intim.

Ketiadaan ruang untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka menyebabkan individu kesulitan membangun ikatan emosional yang kuat.

Anak-anak yang tidak dibiasakan berbicara tentang emosi akan kesulitan mengomunikasikan kebutuhan batinnya kepada pasangan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore