Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Januari 2026 | 17.46 WIB

Ini Dia 7 Perilaku yang Mengungkap Seseorang Tidak Tumbuh Dengan Uang

Ilustrasi seseorang yang tidak tumbuh dengan uang (Geediting) - Image

Ilustrasi seseorang yang tidak tumbuh dengan uang (Geediting)


JawaPos.Com - Uang memang mampu mengubah banyak hal dalam hidup seseorang. Namun, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil sering kali melekat kuat, bahkan ketika kondisi finansial sudah jauh membaik. Menariknya, ada sejumlah perilaku kecil yang tanpa disadari justru menjadi penanda bahwa seseorang tidak tumbuh dalam keluarga berada, meskipun saat ini mereka tergolong kaya.

Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (23/01), berikut adalah 7 perilaku halus yang secara tidak langsung mengungkap seseorang tidak tumbuh dengan uang, meski kini hidup berkecukupan atau bahkan bergelimang harta.

1. Selalu Mengecek Harga Barang

Seseorang yang tidak tumbuh kaya biasanya memiliki refleks alami untuk selalu mengecek harga, bahkan pada barang yang sebenarnya sangat mampu mereka beli. Mereka bisa saja mengendarai mobil listrik mahal, namun tetap membandingkan harga deterjen per ons di rak supermarket.

Kebiasaan menghitung ini berasal dari masa ketika setiap rupiah sangat berarti. Meskipun kini kondisi finansial aman, “kalkulator mental” itu tetap aktif dan sulit dimatikan.

2. Menghabiskan Makanan di Piring

Bagi mereka yang tumbuh tanpa kelebihan uang, menyisakan makanan sering kali memicu rasa bersalah. Kalimat klasik seperti “masih banyak orang kelaparan” terus terngiang, bahkan hingga dewasa.

Tak heran jika mereka selalu menghabiskan makanan atau meminta dibungkus meski hanya tersisa sedikit. Membuang makanan terasa tidak nyaman secara emosional, karena kebiasaan ini terbentuk dari masa lalu yang penuh penghematan.

3. Borong Barang Saat Diskon

Lemari dan gudang orang-orang ini biasanya penuh stok. Tisu, daging beku, hingga kebutuhan rumah tangga lain dibeli dalam jumlah besar saat diskon.

Ini bukan soal serakah, melainkan refleksi dari masa ketika kebutuhan pokok bisa habis sebelum akhir bulan. Diskon memicu naluri bertahan hidup yang tertanam sejak kecil.

4. Menggunakan Barang Selama Mungkin

Jaket lama, ponsel lawas, sepatu usang—semua masih dianggap layak pakai selama fungsinya berjalan. Barang rusak diperbaiki, bukan langsung dibuang.

Prinsip “pakai sampai habis” tertanam kuat. Bagi mereka, membuang barang yang masih bisa digunakan terasa seperti pemborosan besar, meskipun uang bukan lagi masalah.

5. Tidak Nyaman Melihat Pemborosan

Saat melihat orang lain menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu, ekspresi tidak nyaman kerap muncul. Mereka mungkin tidak berkomentar, namun secara batin merasa terganggu.

Pemborosan mengingatkan mereka pada masa ketika setiap pengeluaran harus dipikirkan matang-matang. Ini bukan soal menghakimi, melainkan reaksi emosional yang terbentuk sejak lama.

6. Terbiasa Melakukan Segalanya Sendiri (DIY)

Memperbaiki keran bocor, mengganti oli, atau membetulkan peralatan rumah adalah hal biasa bagi mereka. Meski mampu membayar jasa profesional, kebiasaan mandiri lebih dominan.

Ini berasal dari masa ketika memanggil tukang bukan pilihan. Kemandirian menjadi identitas, bukan sekadar cara menghemat uang.

7. Hubungan yang Rumit dengan Barang Mewah

Mereka bisa membeli barang mewah, tetapi sering disertai rasa canggung. Jam mahal hanya dipakai di momen tertentu, atau kelas bisnis terasa “berlebihan” untuk perjalanan pribadi.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore