
Ilustrasi seseorang yang tidak tumbuh dengan uang (Geediting)
JawaPos.Com - Uang memang mampu mengubah banyak hal dalam hidup seseorang. Namun, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil sering kali melekat kuat, bahkan ketika kondisi finansial sudah jauh membaik. Menariknya, ada sejumlah perilaku kecil yang tanpa disadari justru menjadi penanda bahwa seseorang tidak tumbuh dalam keluarga berada, meskipun saat ini mereka tergolong kaya.
Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (23/01), berikut adalah 7 perilaku halus yang secara tidak langsung mengungkap seseorang tidak tumbuh dengan uang, meski kini hidup berkecukupan atau bahkan bergelimang harta.
Seseorang yang tidak tumbuh kaya biasanya memiliki refleks alami untuk selalu mengecek harga, bahkan pada barang yang sebenarnya sangat mampu mereka beli. Mereka bisa saja mengendarai mobil listrik mahal, namun tetap membandingkan harga deterjen per ons di rak supermarket.
Kebiasaan menghitung ini berasal dari masa ketika setiap rupiah sangat berarti. Meskipun kini kondisi finansial aman, “kalkulator mental” itu tetap aktif dan sulit dimatikan.
Bagi mereka yang tumbuh tanpa kelebihan uang, menyisakan makanan sering kali memicu rasa bersalah. Kalimat klasik seperti “masih banyak orang kelaparan” terus terngiang, bahkan hingga dewasa.
Tak heran jika mereka selalu menghabiskan makanan atau meminta dibungkus meski hanya tersisa sedikit. Membuang makanan terasa tidak nyaman secara emosional, karena kebiasaan ini terbentuk dari masa lalu yang penuh penghematan.
Lemari dan gudang orang-orang ini biasanya penuh stok. Tisu, daging beku, hingga kebutuhan rumah tangga lain dibeli dalam jumlah besar saat diskon.
Ini bukan soal serakah, melainkan refleksi dari masa ketika kebutuhan pokok bisa habis sebelum akhir bulan. Diskon memicu naluri bertahan hidup yang tertanam sejak kecil.
Jaket lama, ponsel lawas, sepatu usang—semua masih dianggap layak pakai selama fungsinya berjalan. Barang rusak diperbaiki, bukan langsung dibuang.
Prinsip “pakai sampai habis” tertanam kuat. Bagi mereka, membuang barang yang masih bisa digunakan terasa seperti pemborosan besar, meskipun uang bukan lagi masalah.
Saat melihat orang lain menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu, ekspresi tidak nyaman kerap muncul. Mereka mungkin tidak berkomentar, namun secara batin merasa terganggu.
Pemborosan mengingatkan mereka pada masa ketika setiap pengeluaran harus dipikirkan matang-matang. Ini bukan soal menghakimi, melainkan reaksi emosional yang terbentuk sejak lama.
Memperbaiki keran bocor, mengganti oli, atau membetulkan peralatan rumah adalah hal biasa bagi mereka. Meski mampu membayar jasa profesional, kebiasaan mandiri lebih dominan.
Ini berasal dari masa ketika memanggil tukang bukan pilihan. Kemandirian menjadi identitas, bukan sekadar cara menghemat uang.
Mereka bisa membeli barang mewah, tetapi sering disertai rasa canggung. Jam mahal hanya dipakai di momen tertentu, atau kelas bisnis terasa “berlebihan” untuk perjalanan pribadi.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
