
seseorang yang bukanlah orang benar-benar baik./Freepik/freepik
JawaPos.com - Banyak orang tampak ramah, sopan, bahkan penuh senyum. Namun psikologi modern mengingatkan kita pada satu hal penting: kebaikan sejati tidak selalu terlihat dari sikap luar, melainkan dari pola bahasa yang konsisten.
Kata-kata adalah jendela menuju cara seseorang berpikir, memandang orang lain, dan—yang terpenting—memperlakukan sesama ketika tidak ada keuntungan pribadi.
Psikolog sosial sepakat bahwa bahasa sehari-hari sering kali menjadi “kebocoran” karakter.
Seseorang mungkin bisa berpura-pura baik dalam tindakan sesekali, tetapi frasa yang terus berulang dalam percakapan spontan sulit disamarkan.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (18/12), terdapat delapan frasa yang, menurut psikologi, sering muncul pada orang yang tidak benar-benar memiliki niat baik, meski mereka tampak normal atau bahkan menyenangkan di permukaan.
1. “Aku cuma jujur, kok”
Frasa ini terdengar mulia, tetapi dalam psikologi komunikasi, sering kali menjadi pembenaran untuk berkata kasar, merendahkan, atau menyakiti. Orang yang benar-benar baik memahami bahwa kejujuran tidak harus melukai.
Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan empati tinggi cenderung menyaring kejujuran mereka dengan kepedulian. Sebaliknya, orang yang berlindung di balik “kejujuran” sering kali lebih peduli meluapkan opini pribadi daripada dampaknya pada orang lain.
2. “Kamu terlalu sensitif”
Ini adalah salah satu bentuk emotional invalidation yang paling umum. Frasa ini tidak menyelesaikan masalah—ia mematikan perasaan lawan bicara.
Dalam psikologi, ini termasuk teknik manipulasi ringan yang membuat orang lain meragukan emosi mereka sendiri. Orang yang baik akan mencoba memahami perasaan, bukan menertawakan atau meniadakannya.
3. “Semua orang juga melakukan itu”
Kalimat ini menandakan penghindaran tanggung jawab moral. Dengan menyamakan diri dengan “semua orang”, seseorang berusaha menghilangkan rasa bersalah atau kritik.
Psikologi moral menyebut ini sebagai diffusion of responsibility. Orang yang memiliki integritas justru berani berkata, “Aku salah,” tanpa perlu berlindung di balik perilaku mayoritas.
4. “Itu bukan salahku”

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
