Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Desember 2025 | 16.53 WIB

Jika Seseorang Sering Menggunakan 8 Frasa Ini dalam Percakapan, Mereka Bukanlah Orang yang Benar-Benar Baik Menurut Psikologi

seseorang yang bukanlah orang benar-benar baik./Freepik/freepik - Image

seseorang yang bukanlah orang benar-benar baik./Freepik/freepik

JawaPos.com - Banyak orang tampak ramah, sopan, bahkan penuh senyum. Namun psikologi modern mengingatkan kita pada satu hal penting: kebaikan sejati tidak selalu terlihat dari sikap luar, melainkan dari pola bahasa yang konsisten.

Kata-kata adalah jendela menuju cara seseorang berpikir, memandang orang lain, dan—yang terpenting—memperlakukan sesama ketika tidak ada keuntungan pribadi.

Psikolog sosial sepakat bahwa bahasa sehari-hari sering kali menjadi “kebocoran” karakter.

Seseorang mungkin bisa berpura-pura baik dalam tindakan sesekali, tetapi frasa yang terus berulang dalam percakapan spontan sulit disamarkan.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (18/12), terdapat delapan frasa yang, menurut psikologi, sering muncul pada orang yang tidak benar-benar memiliki niat baik, meski mereka tampak normal atau bahkan menyenangkan di permukaan.

1. “Aku cuma jujur, kok”

Frasa ini terdengar mulia, tetapi dalam psikologi komunikasi, sering kali menjadi pembenaran untuk berkata kasar, merendahkan, atau menyakiti. Orang yang benar-benar baik memahami bahwa kejujuran tidak harus melukai.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan empati tinggi cenderung menyaring kejujuran mereka dengan kepedulian. Sebaliknya, orang yang berlindung di balik “kejujuran” sering kali lebih peduli meluapkan opini pribadi daripada dampaknya pada orang lain.

2. “Kamu terlalu sensitif”

Ini adalah salah satu bentuk emotional invalidation yang paling umum. Frasa ini tidak menyelesaikan masalah—ia mematikan perasaan lawan bicara.

Dalam psikologi, ini termasuk teknik manipulasi ringan yang membuat orang lain meragukan emosi mereka sendiri. Orang yang baik akan mencoba memahami perasaan, bukan menertawakan atau meniadakannya.

3. “Semua orang juga melakukan itu”

Kalimat ini menandakan penghindaran tanggung jawab moral. Dengan menyamakan diri dengan “semua orang”, seseorang berusaha menghilangkan rasa bersalah atau kritik.

Psikologi moral menyebut ini sebagai diffusion of responsibility. Orang yang memiliki integritas justru berani berkata, “Aku salah,” tanpa perlu berlindung di balik perilaku mayoritas.

4. “Itu bukan salahku”

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore