
ilustrasi seorang kakek yang tampak sedih./Freepik
JawaPos.com - Generasi Baby Boomer dibesarkan dalam lingkungan yang secara sistematis mengajarkan mereka memutus diri dari kehidupan emosionalnya.
Banyak dari mereka kini menjalani hidup dengan konsekuensi dari pelajaran masa kecil tersebut.
Inilah mengapa sering kali terjadi keheningan, bukan perlawanan, saat ditanya mengenai perasaan mereka, seperti yang ditemukan dalam sesi terapi.
Hal tersebut terjadi karena mereka diajari untuk mengabaikan sinyal emosi, dan kini banyak yang kesulitan mengatasi masalahnya.
Kita akan membahas delapan cara yang paling memilukan tentang bagaimana mereka diajari menekan perasaan, serta biaya yang harus ditanggung,
Melansir dari Geediting.com Kamis (23/10). Mari kita telusuri bagaimana pola asuh ini membentuk cara pandang mereka terhadap emosi.
1. “Anak laki-laki tidak boleh menangis”
Ungkapan ini bukan sekadar kalimat, melainkan prinsip utama yang mengajarkan bahwa air mata adalah tanda kelemahan. Anak laki-laki belajar bahwa mengungkapkan kesedihan sangat tidak jantan dan wajib diredam. Hal ini membuat mereka kehilangan kemampuan memproses kesedihan, kekecewaan, dan rasa sakit secara sehat.
Emosi tersebut dialihkan menjadi amarah, satu-satunya perasaan yang dianggap "diterima" bagi pria. Bertahun-tahun kemudian, banyak pria kesulitan menunjukkan kerentanan meskipun mereka sangat menginginkannya.
2. “Anak sebaiknya terlihat, bukan didengar”
Baca Juga: Masuk ke Dalam Kategori Balungan Sugih, 4 Weton ini Hidupnya Paling Cepat Berubah Menjadi Kaya Raya
Aturan ini melampaui sekadar kendali volume suara; ini adalah penghapusan emosional secara langsung. Perasaan anak dianggap tidak relevan, dan jika sedang marah atau takut, respons yang tepat hanyalah diam. Kerusakan jangka panjang terlihat dari sulitnya mereka membela kebutuhan diri sendiri di usia dewasa.
Mereka belajar bahwa mengungkapkan ketidaknyamanan adalah beban bagi orang lain. Pengalaman internal mereka dianggap kurang penting daripada menjaga kedamaian di luar.
3. “Jangan terlalu sensitif”
Kepekaan dianggap sebagai penghinaan yang harus dihilangkan seperti kebiasaan buruk yang ada. Jika ada sesuatu yang menyakiti perasaan, masalahnya bukan pada yang menyakiti, melainkan pada emosi itu sendiri. Individu dianggap terlalu lembek atau terlalu berlebihan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022