Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Oktober 2025 | 21.05 WIB

Jika 7 Hal Tentang Anak Muda Ini Membuat Anda Marah, Berarti Anda Sudah Resmi Menjadi Orang Tua Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang membenci perilaku hal-hal yang dilakukan anak muda


JawaPos.com - Setiap generasi memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, dan mencari makna hidup. 

 
Namun, seiring bertambahnya usia, kita sering kali tidak sadar bahwa cara pandang kita ikut berubah. 
 
Dulu mungkin kita termasuk mereka yang “paling gaul”, kini justru merasa terganggu dengan gaya hidup anak muda masa kini. 
 
 
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai generational dissonance — ketidaksesuaian pandangan antar generasi yang membuat orang dewasa merasa “asing” terhadap budaya anak muda.

Jika Anda mulai sering mengeluh tentang kebiasaan mereka yang “aneh”, “nggak sopan”, atau “nggak masuk akal”, mungkin saatnya Anda mengakui: Anda sudah resmi menjadi orang tua — minimal dalam cara berpikir.

Dilansir dari Geediting pada Senin (20/10), terdapat 7 hal khas anak muda zaman sekarang yang sering membuat generasi di atasnya geleng-geleng kepala, lengkap dengan penjelasan psikologinya.
 
Baca Juga: Orang-orang yang Merasa Kesepian di Usia Senja Seringkali Melakukan 8 Kesalahan dalam Pertemanan Ini di Masa Muda Mereka Menurut Psikologi

1. Terlalu Sering Main HP dan Jarang Ngobrol Langsung


Dulu, duduk di warung kopi sambil ngobrol panjang adalah bentuk keakraban. 
 
Kini, anak muda bisa duduk bersebelahan tanpa berbicara sepatah kata pun—karena komunikasi terjadi lewat layar.

Bagi banyak orang dewasa, ini tampak seperti tanda keterasingan sosial. 
 
Namun menurut psikolog sosial, ini hanyalah perubahan medium komunikasi. 
 
Anak muda kini mengekspresikan keintiman lewat emoji, voice note, dan story reaction. 
 
Jika kebiasaan ini membuat Anda marah, itu tanda Anda terbiasa dengan pola interaksi lama yang mengandalkan kontak langsung dan emosi spontan.

2. Gaya Berpakaian yang Terlalu Bebas dan “Aneh”


Celana robek, rambut warna ungu, atau baju kebesaran—semua ini sering dianggap simbol pemberontakan. 
 
Namun bagi anak muda, gaya tersebut bukan sekadar fesyen, melainkan bentuk self-expression.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa masa remaja adalah fase pencarian identitas. 
 
Mereka mencoba membedakan diri dari generasi sebelumnya. 
 
Jadi, jika Anda spontan berkata “nggak sopan banget tuh bajunya!”, itu tanda klasik bahwa Anda mulai menilai berdasarkan norma zaman Anda dulu.

3. Bahasa Gaul yang Sulit Dimengerti


“Anjir vibes-nya kayak nggak ngulik banget sih lo?”

Kalimat seperti ini bisa membuat generasi 80–90an garuk-garuk kepala. 
 
Bahasa gaul anak muda berubah secepat tren media sosial. 
 
Menurut studi linguistik sosial, bahasa gaul berfungsi sebagai kode eksklusif yang mempererat identitas kelompok. 
 
Jadi, kalau Anda merasa “kesal” karena tidak paham istilah mereka, itu pertanda Anda sudah di luar lingkaran budaya mereka—posisi yang dulu mungkin ditempati oleh orang tua Anda sendiri.

4. Suka Rebahan tapi Mengaku Produktif


Anak muda zaman sekarang sering memadukan antara istirahat dan kerja dalam satu napas: “Aku produktif kok, cuma sambil rebahan aja.”

Bagi generasi lama yang terbiasa dengan kerja keras fisik, konsep ini terdengar seperti alasan malas. 
 
Namun psikologi modern mengakui munculnya smart work mentality — paradigma baru di mana efisiensi, bukan sekadar durasi kerja, menjadi ukuran produktivitas. 
 
Jadi, jika kalimat “rebahan tapi produktif” membuat darah Anda naik, besar kemungkinan Anda dibesarkan dengan nilai work ethic yang sangat tradisional.

5. Menolak Ikut Jalur “Normal” Hidup


Sekolah–kuliah–kerja–nikah—rangkaian hidup yang dulu dianggap ideal kini banyak ditinggalkan. 
 
Anak muda sekarang lebih memilih jalan alternatif: freelance, digital nomad, atau bahkan hidup tanpa target jangka panjang.

Psikologi eksistensial menjelaskan bahwa generasi muda menghadapi krisis makna yang berbeda. 
 
Mereka tidak mengejar stabilitas, melainkan kebebasan. 
 
Jika Anda kesal melihat mereka “tidak mau menetap” atau “terlalu idealis”, itu pertanda Anda sudah mengadopsi pola pikir generasi mapan yang mengutamakan keamanan dibanding eksplorasi.

6. Terlalu Terbuka Soal Emosi dan Kesehatan Mental


Anak muda kini dengan santai membicarakan kecemasan, depresi, atau terapi. Bagi sebagian orang tua, ini dianggap “berlebihan” atau “drama”.

Padahal, psikologi modern justru mendukung keterbukaan ini sebagai bentuk kesehatan emosional. 
 
Generasi muda tumbuh di era yang menormalisasi kerentanan (vulnerability) sebagai kekuatan. 
 
Jadi, kalau Anda merasa risih mendengar mereka curhat di media sosial, itu pertanda Anda masih memegang nilai lama: bahwa emosi sebaiknya disembunyikan, bukan dibagikan.

7. Suka Mengkritik “Sistem” dan Tidak Takut Beda Pendapat


Dulu, menghormati orang tua dan atasan berarti diam dan patuh. 
 
Sekarang, anak muda bisa dengan santai berkata: “Maaf, saya tidak setuju.”

Secara psikologis, ini menunjukkan critical consciousness — kesadaran kritis terhadap ketidakadilan sosial. 
 
Mereka bukan tidak hormat, hanya memiliki keberanian untuk berpikir independen. 
 
Jika keberanian itu terasa seperti “kurang ajar”, mungkin karena Anda sudah terbiasa dengan budaya hierarki yang kuat dan stabil.

Kesimpulan: Saat Marah Menjadi Cermin Usia Psikologis


Marah terhadap perilaku anak muda sebenarnya bukan soal benar atau salah—tetapi refleksi bahwa nilai-nilai kita telah berakar kuat dan sulit beradaptasi dengan zaman baru. 
 
Dalam psikologi, ini disebut cognitive rigidity, kecenderungan untuk menolak perubahan.

Maka, jika tujuh hal di atas membuat Anda sering mengeluh, tenang saja: itu bukan berarti Anda kuno, hanya tanda bahwa Anda sudah menapaki fase “dewasa penuh”, di mana stabilitas terasa lebih penting daripada eksperimen.

Namun, ingatlah satu hal—dulu Anda pun pernah muda, pernah memberontak, dan pernah dianggap aneh oleh generasi sebelumnya. 
 
Dunia akan terus berubah, dan setiap generasi hanya sedang menulis versinya sendiri tentang cara hidup yang dianggap benar. 
 
Yang penting, kita tetap belajar memahami tanpa menghakimi. 
 
Karena, di balik perbedaan itu, ada satu kesamaan universal: keinginan untuk dimengerti.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore