
ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku nonfiksi dengan tenang di usia senja, menunjukkan fokus dan stimulasi mental./Freepik
JawaPos.com - Banyak orang bertanya-tanya mengapa beberapa individu di usia tujuh puluhan tetap berpikir jernih dan berprestasi. Mereka mampu mengalahkan orang muda dalam permainan strategis dan mengingat detail-detail rumit. Kualitas pikiran yang tajam ini bukan hanya karena faktor genetik semata.
Kondisi pikiran seperti ini lebih banyak didorong oleh kebiasaan harian tertentu yang dilakukan secara konsisten. Melansir dari Geediting.com Kamis (9/10), kebiasaan ini tidak memerlukan suplemen mahal atau gelar akademik tinggi. Konsistensi dalam menjaga otak tetap terlibat adalah kunci utamanya.
Berikut adalah sembilan kebiasaan sederhana yang dipraktikkan oleh mereka yang tetap tajam secara mental setelah usia 70:
Membaca Bahan Bacaan yang Menantang Setiap Hari
Mereka tidak terpaku pada bacaan ringan, tetapi justru sering menantang diri dengan buku biografi atau jurnal ilmiah. Otak diibaratkan otot; jika diberi makanan cepat saji, ia akan menjadi malas, tetapi tantangan membuatnya lapar. Kuncinya adalah mendorong diri melampaui zona nyaman demi menjaga jalur saraf tetap bekerja.
Mempertahankan Hubungan Sosial yang Tulus
Isolasi sosial adalah racun yang sangat berbahaya bagi otak yang menua. Mereka yang tajam secara mental memelihara hubungan nyata, seperti bertemu teman atau bergabung dengan klub buku. Mereka terlibat dalam percakapan yang lebih mendalam, bukan hanya obrolan permukaan tentang cuaca.
Terus Belajar Keterampilan Baru
Mempelajari keahlian baru secara harfiah akan menyusun ulang koneksi saraf dalam otak. Entah itu belajar bahasa, bermain alat musik, atau bahkan permainan video, tindakan belajar ini membuat otak tetap plastis dan mudah beradaptasi. Proses belajar itu sendiri adalah hal yang paling penting, bukan penguasaan total terhadap suatu keterampilan.
Melatih Tubuh untuk Melatih Pikiran
Fisik yang bugar seringkali menjadi wadah bagi pikiran yang paling tajam dan jernih. Aktivitas fisik secara teratur meningkatkan aliran darah ke otak, memberikan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Berjalan kaki setiap hari selama tiga puluh menit sudah dapat menghasilkan perbedaan besar dalam kejernihan berpikir.
Menganut Rutinitas tetapi Menerima Kebaruan
Mereka memiliki jadwal yang stabil, termasuk jam bangun dan waktu makan yang teratur, tetapi mencari pengalaman baru dalam kerangka itu. Misalnya, mencoba resep baru atau mengambil rute jalan kaki yang berbeda dari biasanya. Dosis kebaruan kecil dalam struktur yang stabil merupakan titik keseimbangan terbaik.
Memprioritaskan Kualitas Tidur
Tidur adalah proses penting ketika otak mengonsolidasikan memori dan membersihkan racun-racun yang ada. Mengabaikan kualitas tidur sama saja meminta otak untuk berfungsi dengan tumpukan sampah sisa hari sebelumnya. Mereka menjaga jadwal tidur yang ketat, bahkan pada akhir pekan, dan mematikan layar sebelum tidur.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
