
Ilustrasi menggigit kuku (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Perilaku dan kebiasaan orang memanglah unik, salah satunya adalah kebiasaan sering menggigit kuku. Meskipun sering diabaikan, perilaku ini memiliki nama medis, yaitu Onikofagia. Sementara itu, dari sisi psikologi, kondisi ini bisa menjadi indikasi gangguan kejiwaan yang lebih serius, seperti depresi atau kecemasan, yang dikenal dengan istilah Onikotilomania.
Berdasarkan penelitian yang dilansir dari laman News Medical, kebiasaan menggigit kuku terjadi pada 20 hingga 30 persen anak muda dan 45 persen remaja. Walaupun kondisi tersebut cenderung berkurang menjelang dewasa, sayangnya masih ada beberapa orang yang terus mengalaminya.
Berikut ini adalah enam makna psikologis di balik kebiasaan seseorang yang sering menggigit kuku, menurut penelitian:
1. Kegugupan
Secara psikologis, orang sering menggigit kuku karena gugup, stres, dan kecemasan. Dalam situasi ini, menggigit kuku menjadi aksi yang menarik untuk sementara waktu karena dapat memberikan efek menenangkan pada sistem saraf.
2. Emosi
Kondisi emosional merupakan faktor penting yang memicu kebiasaan ini. Perasaan seperti rasa malu dan rendah diri dapat memengaruhi, selain rasa sakit yang disebabkan oleh peristiwa traumatis, seperti kematian atau perceraian.
3. Perfeksionisme
Orang yang memiliki sifat perfeksionis menunjukkan toleransi yang rendah terhadap kebosanan dan frustrasi. Perasaan-perasaan ini kemudian diatasi dengan cara menggigit kuku.
4. Kebosanan
Ketika seseorang sering merasa bosan karena tidak ada kegiatan yang dilakukan, rasa bosan ini dapat diatasi dengan cara menggigit kuku sebagai bentuk stimulasi.
5. Imitasi (Meniru)
Anak-anak seringkali meniru ucapan, tindakan, perilaku, atau kebiasaan yang dilakukan oleh orang lain. Ketika anak melihat orang lain menggigit kuku, mereka cenderung meniru perilaku tersebut. Jika dibiarkan terlalu lama, hal ini akan menjadi sebuah kebiasaan.
6. Psikosomatis
Psikosomatis merupakan bentuk macam-macam penyakit fisik yang ditimbulkan oleh konflik psikis dan kecemasan kronis. Ini bisa disebabkan oleh gangguan fisik seperti kejiwaan dan sosial.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
