Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 September 2025 | 18.00 WIB

7 Ciri Kepribadian Ganda yang Jarang Disadari, Waspada Jika Kamu Mengalaminya

Ilustrasi kepribadian ganda (Canva) - Image

Ilustrasi kepribadian ganda (Canva)

JawaPos.com - Kepribadian ganda merupakan gangguan mental serius yang ditandai dengan adanya lebih dari satu identitas dalam diri seseorang. Kondisi ini dikenal secara medis sebagai Dissociative Identity Disorder (DID).

Banyak orang masih keliru membedakan kepribadian ganda dengan skizofrenia. Padahal, penderita DID mengalami pergantian identitas yang berbeda, bukan sekadar gangguan pada pikiran atau emosi.

Umumnya, kondisi ini berakar dari trauma berat di masa kecil. Namun, karena gejalanya sering samar, penting memahami ciri-ciri penderita agar bisa dikenali sejak dini.

Dilansir dari laman RS Pondok Indah, berikut ini tujuh ciri kepribadian ganda yang jarang disadari, tetapi sangat penting untuk dipahami agar penderita mendapat dukungan tepat.

Baca Juga: 5 Cushion Terbaik untuk Make Up Flawless, Tahan Lama meski Aktif Seharian

1. Memiliki Lebih dari Satu Kepribadian

Penderita DID memiliki lebih dari satu identitas atau alter ego. Setiap kepribadian bisa memiliki perilaku, sifat, bahkan usia atau jenis kelamin berbeda.

Pergantian kepribadian biasanya terjadi tiba-tiba. Saat alter ego mengambil alih, penderita dapat berubah total menjadi sosok lain dengan ciri kontras.

Perbedaan identitas ini bisa menciptakan kebingungan besar. Misalnya, kepribadian satu sangat sopan, sementara kepribadian lain bisa kasar atau melanggar aturan.

Kondisi ini membuat penderita sulit menjalani kehidupan normal. Orang di sekitarnya pun sering kesulitan memahami perubahan drastis yang terjadi tanpa alasan jelas.

Baca Juga: Kenali 5 Ciri-ciri Kanker Kelenjar Getah Bening Stadium 1, Nomor Terakhir Sering Diabaikan

2. Pergantian Identitas Tiba-tiba

Salah satu ciri khas kepribadian ganda adalah pergantian identitas yang mendadak. Proses ini sering terjadi tanpa pemicu jelas dan tidak dapat dikendalikan penderita.

Dilansir dari laman Alodokter.com, pergantian tersebut bisa disertai perubahan suara, bahasa, atau ekspresi wajah. Bahkan, beberapa penderita bisa menunjukkan kemampuan baru yang tidak dimiliki sebelumnya.

Kondisi ini bisa membuat penderita kehilangan kontrol. Mereka seolah menyerahkan kesadaran penuh kepada kepribadian lain yang tiba-tiba muncul.

Akibatnya, hubungan sosial dan aktivitas sehari-hari menjadi kacau. Lingkungan sekitar pun merasa bingung menghadapi perubahan mendadak tersebut.

3. Mengalami Amnesia

Penderita DID kerap mengalami amnesia. Mereka bisa lupa terhadap peristiwa traumatis, aktivitas harian, bahkan informasi pribadi yang seharusnya mudah diingat.

Amnesia ini berbeda dari lupa biasa. Penderita bisa benar-benar kehilangan memori hingga tidak tahu mengapa berada di tempat tertentu.

Kadang, penderita juga lupa akan kemampuannya sendiri. Misalnya, seorang ahli komputer bisa lupa menggunakan perangkat, sementara alter ego lain justru mahir melukis.

Kesenjangan memori ini memicu kebingungan. Penderita sering merasa tidak pernah melakukan hal yang sebenarnya dilakukan oleh alter ego.

4. Merasa Terpisah dari Diri Sendiri

Banyak penderita DID merasa dirinya terpisah dari tubuh atau emosinya sendiri. Sensasi ini dikenal sebagai depersonalisasi atau derealisasi dalam dunia psikologi.

Mereka sering merasa seperti orang ketiga yang sedang mengamati diri sendiri dari luar tubuh. Kondisi ini menimbulkan rasa asing terhadap diri sendiri.

Selain itu, penderita juga bisa merasakan dunia di sekitarnya tidak nyata. Sensasi aneh ini membuat mereka semakin bingung dengan identitas yang dimilikinya.

Akibatnya, rasa frustrasi sering muncul. Penderita merasa sulit mengendalikan hidupnya karena tidak sepenuhnya menyatu dengan diri sendiri.

5. Hambatan dalam Bersosialisasi

Kepribadian ganda sering menyebabkan penderita kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat. Perubahan identitas membuat interaksi dengan orang lain menjadi tidak konsisten.

Dalam dunia kerja atau pendidikan, kondisi ini sangat mengganggu. Pergantian identitas dapat mengacaukan rutinitas sehingga penderita sulit mempertahankan karier atau studi.

Banyak penderita merasa frustrasi karena gagal menjalankan peran sosial. Identitas yang berbeda kadang memiliki tujuan, minat, dan perilaku yang saling bertolak belakang.

Kesulitan ini bisa membuat penderita semakin menarik diri. Lingkungan yang tidak memahami kondisinya memperparah isolasi sosial yang dirasakan.

6. Adanya Gejala Psikologis Lain

Penderita DID sering kali mengalami masalah mental tambahan. Gangguan kecemasan, depresi, delusi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri menjadi gejala yang cukup sering terjadi.

Bahkan, sebagian penderita memiliki ide bunuh diri akibat tekanan mental yang berat. Hal ini dipicu oleh ketidakmampuan mengendalikan identitas yang silih berganti.

Jika tidak segera ditangani, gejala tambahan ini bisa memperparah kondisi penderita. Penanganan profesional sangat penting agar kualitas hidup tidak semakin menurun.

7. Kebingungan Identitas

Penderita DID sering merasa bingung dengan informasi yang mereka terima dari orang sekitar. Hal ini disebabkan perbedaan perilaku antara identitas yang bergantian muncul.

Mereka bisa frustrasi karena merasa tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Identitas berbeda sering kali membuat penderita kehilangan arah hidup.

Kondisi ini semakin memperparah rasa tidak berdaya. Penderita merasa tidak bisa mengendalikan kemunculan alter ego yang hadir tanpa peringatan.

Frustrasi ini sering berujung stres berkepanjangan. Jika tidak ditangani, penderita berisiko semakin terpuruk dan sulit menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik.

Kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder adalah kondisi medis serius yang tidak boleh dianggap sepele atau disamakan dengan fenomena mistis.

Tujuh ciri yang sudah dijelaskan perlu diperhatikan agar penderita bisa dikenali lebih cepat dan mendapat dukungan lingkungan sekitar.

Penderita DID membutuhkan bantuan profesional, seperti terapi psikologis intensif. Dengan perawatan yang tepat, mereka bisa belajar mengelola identitas yang ada.

Selain itu, pemahaman masyarakat juga sangat penting. Lingkungan yang suportif membantu penderita merasa diterima dan mampu menjalani hidup lebih stabil.

Mengenali ciri kepribadian ganda sejak dini bisa menyelamatkan banyak orang. Kesadaran dan empati adalah langkah awal untuk meringankan beban penderita DID.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore