Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 22.04 WIB

Mengapa Kita Sering Merasa Belum Cukup? Psikologi di Balik Rasa Kurang dan Cara Mengatasinya

Perilaku Orang yang Merasa kurang dan Tidak Puas dengan Hidupnya, Menurut Psikologi - Image

Perilaku Orang yang Merasa kurang dan Tidak Puas dengan Hidupnya, Menurut Psikologi

JawaPos.com – Pernahkah Anda merasa sudah berusaha keras, tetapi tetap muncul pikiran “saya belum cukup baik”? Fenomena ini kerap dialami oleh banyak orang di berbagai usia dan latar belakang. Rasa tidak pernah cukup (never enough) bukan hanya sekadar perasaan, melainkan refleksi dari pola pikir dan pengalaman psikologis yang mendalam.

Apa itu perasaan “belum cukup”?

Menurut Psychology Today (2025), rasa tidak pernah cukup adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa gagal memenuhi standar, baik yang datang dari diri sendiri maupun lingkungan. Meski telah meraih pencapaian, individu masih merasa kurang atau tidak pantas mendapat penghargaan.

Sementara itu, laman PsychCentral menambahkan bahwa perasaan ini sering muncul akibat perbandingan sosial berlebihan, trauma masa lalu, atau ekspektasi yang tidak realistis.

Siapa yang rentan mengalaminya?

Psikolog menyebut, individu dengan pola asuh yang terlalu menuntut, minim validasi emosional, atau sering dibandingkan dengan orang lain sejak kecil lebih rentan merasakan hal ini. Harley Therapy menjelaskan, anak yang tumbuh dalam lingkungan kompetitif biasanya membawa pola pikir “tidak cukup” hingga dewasa, meski sudah sukses secara akademik maupun karier.

Mengapa kita merasa belum cukup?

Ada beberapa faktor yang memengaruhi munculnya perasaan ini:

  1. Perbandingan Sosial
    Media sosial membuat orang mudah membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain. Akibatnya, standar diri terasa selalu lebih rendah.

  • Perfeksionisme
    Menurut Therapy in a Nutshell, orang dengan kecenderungan perfeksionis sering merasa gagal, meski sebenarnya mereka sudah memenuhi standar normal.

  • Kurangnya Self-Compassion
    Tanpa kemampuan menerima diri apa adanya, seseorang sulit menghargai proses dan cenderung terus merasa kurang.

  • Budaya “More is Better”
    Penelitian di Positive Psychology menunjukkan, budaya modern yang menekankan produktivitas dan pencapaian tanpa henti memicu perasaan tidak pernah cukup.

  • Apa dampaknya?

    Rasa tidak pernah cukup tidak hanya mengganggu emosi, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Individu bisa mengalami stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat seseorang kehilangan motivasi, sulit menikmati pencapaian, bahkan merasa terjebak dalam lingkaran kelelahan emosional (emotional exhaustion).

    Bagaimana cara mengatasinya?

    Editor: Novia Tri Astuti
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore