Sudahkah kita menjadi pendengar yang baik jika teman atau keluarga kita curhat.
JawaPos.com - Pernah menjadi tempat curahan hati (curhat) seseorang? Baik teman atau keluarga pasti pernah menceritakan permasalahan hidupnya kepada kita. Tapi terkadang kita malah menimpali dan membandingkannya dengan cerita kita sendiri. Jika ingin menjadi pendengar yang baik itu harus dihilangkan lho. Yuk belajar mendengarkan curhat menurut psikologi.
Meskipun terkadang mendengarkan curhat melelahkan tapi dengan mendengarkan mereka, kita dapat sedikit meringankan stress dan kecemasan mereka lho. Konseling yang dilakukan psikolog dan psikiater sebenarnya adalah mendengarkan curhat tapi lebih berkemampuan dan tersertifikasi.
Psikolog terkenal dan ahli psikoanalisis, Erich Fromm dalam buku Seni Mendengarkan (1994) menjelaskan bahwa menjadi pendengar yang baik adalah kemampuan yang dilatih dan harus dimiliki seorang psikolog.
Namun sebagai orang awam tentunya kita tetap juga menjadi pendengar yang baik agar orang-orang d isekitar kita sedikit terbantu beban emosionalnya. Penelitian dari BMC Psychiatry (2011) menjelaskan, dukungan sosial seperti ini bahkan sangat membantu banyak orang depresi dan mencegah bunuh diri.
Baca Juga: Sulit Konsentrasi di Tengah Banjir Informasi: Ini Penjelasan Psikologi soal Brain Rot dan Dampaknya
Jadi apa sebenarnya cara mendengarkan curhat menurut psikolog? Mari kita simak ulasan berikut.
Terkadang kita tidak terlalu memperhatikan orang yang sedang curhat dan sering sibuk sendiri entah scroll media sosial atau pura-pura mendengarkan. Menjadi pendengar yang baik haruslah fokus mendengarkan tanpa distraksi.
Menurut APA (2021), ketika kita mendengarkan dengan fokus dan hadir sepenuhnya maka kita akan menumbuhkan empati yang berguna untuk menentramkan hati orang yang mencurahkan uneg-unegnya.
Penelitian dari Weger dkk, (2014) menjelaskan bahwa active listening adalah kemampuan untuk aktif mendengar. Tiga inti active listening yaitu parafrase, refleksi perasaan, dan memberi pertanyaan terbuka pada orang yang bercerita.
Jadi kita tidak hanya diam tanpa menimpali sepatah kata pun pada mereka tapi juga aktif memberi afirmasi seperti mengulang perkataan mereka, konfirmasi perasaan mereka, dan menanyakan pertanyaan terbuka.
Perasaan empati dalam banyak metode konseling dan terapi adalah sebuah kunci keberhasilan. Seperti Psikolog humanistis Carl Rogers (1957) yang menjelaskan bahwa masuk ke dunia batin pembicara merupakan tujuan utama memahami mereka.
Empati sejatinya mengajarkan kita melihat di posisi mereka dan tidak menilai terlalu banyak sebelum mendengarkan mereka. Sudahkah kita berempati dalam mendengar curhat seseorang?
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022