Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Juli 2025 | 04.30 WIB

Ini Jenis-Jenis Self Harm yang Jarang Disadari, Padahal Jauh Lebih Menyakitkan dari Melukai Fisik Menurut Psikologi

Ini Jenis-Jenis Self Harm yang Jarang Disadari, Padahal Jauh Lebih Menyakitkan dari Melukai Fisik Menurut Psikologi (Freepik)


JawaPos.com - Ketika mendengar kata self harm atau menyakiti diri sendiri, yang terlintas di pikiran kita mungkin luka fisik, goresan di tangan atau bekas pukulan.

Padahal, bentuk menyakiti diri tidak selalu tampak secara kasat mata. Ada banyak kebiasaan sehari-hari yang diam-diam bisa menjadi bentuk self harm emosional, tanpa kita sadari. Bentuknya halus, sering dianggap sepele, dan bahkan sering kita maklumi.

Artikel ini akan mengulas tanda-tanda self harm non-fisik yang umum terjadi menurut informasi dari konten di kanal Youtube Psych2go, dan alasan mengapa itu bisa terjadi, serta bagaimana kita bisa mulai beralih ke cara yang lebih sehat untuk mencintai diri sendiri.

1. Makan Berlebihan Saat Emosi Tak Stabil: Banyak orang melampiaskan stres atau kesedihan dengan makanan. Tanpa sadar, kita makan bukan karena lapar, tapi karena ingin menghibur diri. Padahal, binge eating bisa berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental, termasuk gangguan pencernaan hingga risiko diabetes. Jika kamu sering makan saat tidak lapar, cobalah bertanya: “Apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang?”

2. Tidak Makan Sama Sekali: Sebaliknya, stres juga bisa membuat orang kehilangan nafsu makan. Tiba-tiba sadar bahwa sudah berjam-jam berlalu dan belum makan apapun. Ini juga bentuk self harm yang melemahkan tubuh secara perlahan. Coba mulai dengan makanan ringan seperti smoothie atau buah favoritmu, karena tubuh tetap butuh energi bahkan saat pikiran sedang kalut.

3. Terlalu Tenggelam dalam Pikiran Negatif: Mengizinkan pikiran seperti “Aku nggak cukup baik,” atau “Aku pasti gagal lagi,” berulang-ulang masuk ke kepala bisa sangat merusak. Pikiran negatif itu seperti racun pelan yang menggerogoti kepercayaan diri. Lawan dengan kalimat positif: “Aku memang pernah jatuh, tapi aku bisa bangkit lagi.”

4. Terlalu Sibuk Hingga Lupa Diri Sendiri: Terkadang kita terlalu fokus bekerja atau produktif sebagai pelarian dari rasa sakit. Tidur larut, melewatkan makan, sampai burnout. Itu bukan ambisi, tapi tanda kita sedang bersembunyi dari emosi. Ingat, istirahat bukan kelemahan, itu kebutuhan. Luangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama diri sendiri.

5. Melakukan Aktivitas Seksual Berisiko: Seks seharusnya jadi ekspresi kasih sayang dan koneksi. Tapi bila dilakukan sebagai pelarian, untuk menutupi luka atau merasa "berharga", itu bisa berujung pada penyesalan, rasa kosong, bahkan bahaya fisik. Tubuhmu bukan alat untuk pelarian. Tubuhmu berhak dihargai, dijaga, dan disayangi.

6. Minum Alkohol atau Gunakan Obat untuk Kabur dari Masalah: Mengandalkan alkohol atau zat adiktif lain untuk menenangkan diri bisa terasa efektif sementara. Tapi ketika efeknya hilang, yang tersisa justru rasa hampa, penyesalan, dan masalah yang makin menumpuk. Ini bukan solusi. Yang kamu butuhkan adalah ruang untuk sembuh, bukan pelarian sementara.

Kalau kamu bisa mengenali satu atau lebih dari kebiasaan di atas, kamu tidak sendiri. Banyak orang menjalani fase sulit dan mencoba bertahan dengan cara mereka. Namun, kini kamu tahu: menyakiti diri tidak selalu berbentuk luka. Dan kabar baiknya, setiap kebiasaan bisa diubah. Kamu berhak mendapatkan penyembuhan, bukan pelarian. Kamu layak untuk merasa utuh kembali.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore