Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Juli 2025 | 18.55 WIB

7 Kegagalan Finansial yang Membuat Kekayaan Sulit Diraih, Menurut Ahli Psikologi

Ilustrasi perilaku yang menurut psikologi membuat seseorang sulit menjadi kaya. (Pexels/shvetsa) - Image

Ilustrasi perilaku yang menurut psikologi membuat seseorang sulit menjadi kaya. (Pexels/shvetsa)

JawaPos.Com - Semua orang tentu ingin hidup sejahtera dan mapan secara finansial. Namun, kenyataannya, tak sedikit yang justru terus terjebak dalam lingkaran kesulitan ekonomi meskipun telah bekerja keras. 

Menurut para ahli psikologi, kegagalan finansial bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal seperti gaji rendah atau krisis ekonomi, tetapi juga oleh pola pikir dan kebiasaan buruk yang sering tak disadari.

Kebiasaan ini bisa terlihat sederhana, seperti menunda menabung, hingga hal yang lebih serius seperti memiliki mentalitas konsumen daripada investor. 

Dalam jangka panjang, perilaku-perilaku inilah yang tanpa sadar menghambat jalan menuju kekayaan dan kebebasan finansial.

Psikologi finansial mengungkap bahwa keberhasilan ekonomi seseorang sangat erat kaitannya dengan cara berpikir, mengambil keputusan, dan mengelola emosi dalam urusan keuangan. 

Lalu, apa saja kegagalan finansial yang paling umum menurut psikolog? Simak 7 poin penting berikut agar kamu bisa menghindarinya dan mulai membangun masa depan yang lebih makmur.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh perilaku yang menurut psikologi membuat seseorang sulit menjadi kaya. 

Dengan memahami dan mengatasi perilaku-perilaku ini, Anda dapat membuka jalan menuju kesuksesan finansial yang lebih besar.

1. Hidup di Luar Kemampuan

Salah satu penyebab utama mengapa banyak orang sulit untuk menjadi kaya adalah kebiasaan hidup di luar kemampuan finansial mereka. 

Ini adalah fenomena yang sering kali tidak disadari tetapi memiliki dampak yang sangat besar terhadap stabilitas keuangan seseorang. 

Menggunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak diperlukan, membayar cicilan untuk gaya hidup yang tidak sesuai dengan pendapatan, atau sekadar mengikuti tren demi mendapatkan validasi sosial adalah beberapa contoh nyata dari kebiasaan ini.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai kebutuhan untuk mendapatkan validasi sosial, di mana seseorang merasa perlu untuk menunjukkan kesuksesan atau pencapaian tertentu, meskipun sebenarnya mereka berada dalam tekanan finansial. 

Perilaku ini dapat berakar pada rasa tidak aman atau kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sosial tertentu. 

Sayangnya, kebiasaan ini sering kali berujung pada utang yang terus menumpuk dan menghambat seseorang untuk menabung atau berinvestasi demi masa depan.

Solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mulai menjalani hidup sesuai dengan kemampuan. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore