JawaPos.com - Berfoto dan membagikannya di media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, tidak semua orang merasa nyaman berada di depan kamera dan membagikan hasil foto di media sosial.
Sebagian orang, tampak konsisten untuk menghindar kamera saat diajak berfoto.
Bahkan, mereka sering kali merasa gelisah atau tidak nyaman hanya karena kamera diarahkan kepada mereka.
Menurut psikologi, sikap ini tidak selalu sekadar karena "tidak suka", melainkan bisa mencerminkan adanya rasa insecure atau ketidakamanan emosional yang mendalam.
Dilansir dari Geediting, inilah delapan rasa insecure yang sering dimiliki oleh orang-orang yang tidak suka difoto, menurut kajian psikologi:
Salah satu penyebab paling umum adalah rasa tidak percaya diri terhadap penampilan.
Mereka mungkin merasa wajahnya tidak fotogenik, tubuhnya tidak ideal, atau merasa ada bagian dari dirinya yang tidak ingin diperlihatkan.
Orang dengan persepsi negatif terhadap citra tubuhnya (body image) cenderung merasa cemas jika penampilannya diabadikan dalam foto.
Mereka takut dinilai atau dibandingkan dengan standar kecantikan atau ketampanan yang ada di masyarakat atau media sosial.
2. Takut Dinilai oleh Orang Lain
Orang yang menghindari kamera sering memiliki rasa takut yang kuat akan penilaian sosial (social evaluation).
Mereka membayangkan skenario di mana orang lain melihat fotonya dan mengkritik, menertawakan, atau membanding-bandingkan.
Ketakutan ini bisa bersumber dari pengalaman masa lalu seperti perundungan, komentar negatif, atau rasa malu yang pernah dialami.
3. Merasa Tidak Layak Menjadi Pusat Perhatian
Bagi sebagian orang, difoto berarti menjadi pusat perhatian, walau hanya sesaat.
Orang yang memiliki rasa tidak layak (low self-worth) akan merasa tidak pantas untuk menjadi sorotan, seolah-olah kehadirannya tidak sepenting itu untuk didokumentasikan.
Mereka mungkin berpikir, "Untuk apa aku difoto? Aku bukan siapa-siapa."
4. Perfeksionisme yang Berlebihan
Perfeksionis sering kali tidak suka melihat dirinya dalam foto karena foto jarang bisa menangkap versi "sempurna" dari dirinya.
Mereka memiliki standar yang sangat tinggi, dan ketika hasil foto tidak sesuai harapan, mereka merasa kecewa, malu, atau bahkan marah pada diri sendiri.
Maka, daripada merasa kecewa dengan hasilnya, mereka memilih untuk tidak difoto sama sekali.
Beberapa orang memiliki pengalaman buruk masa lalu yang berkaitan dengan foto atau citra diri.
Misalnya, pernah di-bully karena foto masa kecilnya, pernah menjadi bahan lelucon di media sosial, atau mengalami pencurian identitas digital.
Trauma seperti ini bisa meninggalkan jejak psikologis yang dalam dan membuat seseorang menghindari kamera secara terus-menerus.
6. Tidak Ingin Terlihat Rentan
Difoto dapat membuat seseorang merasa “terbuka” atau “rentan”, seolah sedang disorot dan dinilai.
Orang yang takut menunjukkan sisi rentannya sering kali merasa tidak nyaman difoto, karena mereka menganggap bahwa foto bisa membuka sisi pribadi yang tidak ingin ditampilkan.
Ini bisa berkaitan dengan masalah kepercayaan, kontrol diri, atau ketakutan akan kehilangan privasi.
7. Kurangnya Identitas Diri yang Stabil
Menurut psikologi perkembangan, seseorang yang belum memiliki identitas diri yang stabil (misalnya masih mencari "siapa dirinya") bisa merasa tidak nyaman dengan representasi dirinya dalam bentuk visual.
Mereka merasa foto tidak benar-benar merepresentasikan siapa mereka sebenarnya, sehingga menimbulkan konflik batin dan rasa canggung setiap kali melihat hasil potret dirinya sendiri.
8. Rasa Takut Tertinggal atau Tidak Sejalan dengan Standar Sosial
Ironisnya, orang yang tidak suka difoto juga bisa merasa tertinggal secara sosial.
Mereka mungkin merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi media sosial, seperti tampil sempurna, bahagia, atau penuh gaya dalam foto.
Akibatnya, mereka memilih menarik diri dari budaya visual ini dan merasa lebih nyaman untuk tetap berada di balik layar, bukan di dalam frame.
Penutup: Memahami Bukan Menghakimi
Tidak semua orang yang menghindari kamera berarti membenci dirinya sendiri.
Namun, perilaku ini sering kali berakar pada perasaan-perasaan tersembunyi yang belum diselesaikan.
Alih-alih memaksa atau mengolok-olok mereka, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan psikologis yang berbeda.
Dukungan, penerimaan, dan ruang untuk merasa aman adalah kunci agar mereka bisa perlahan membangun kepercayaan diri terhadap citra diri mereka.
Jika Anda termasuk orang yang tidak suka difoto, tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, cobalah untuk mengevaluasi perasaan di baliknya.
Apakah itu rasa takut dinilai, pengalaman buruk, atau standar diri yang terlalu tinggi?
Menyadari dan menerima perasaan tersebut adalah langkah pertama menuju rasa nyaman dengan diri sendiri — baik di dalam maupun di luar frame.
***