Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Juni 2025 | 21.27 WIB

7 Frasa Koping yang Sering Digunakan Jika Keluarga Tak Pernah Minta Maaf

Ilustrasi seseorang yang tampak memendam perasaan, mungkin akibat kebiasaan keluarga tidak meminta maaf yang membentuk pola komunikasinya./Freepik - Image

Ilustrasi seseorang yang tampak memendam perasaan, mungkin akibat kebiasaan keluarga tidak meminta maaf yang membentuk pola komunikasinya./Freepik

JawaPos.com - Pernahkah Anda mendengar orang tua meminta maaf kepada anaknya karena melakukan kesalahan?

Adegan sederhana ini mungkin terasa asing bagi beberapa orang yang tumbuh di lingkungan keluarga tanpa permintaan maaf tulus. Kebiasaan mengabaikan kesalahan atau menyalahkan pihak lain bisa membentuk cara seseorang berkomunikasi.

Saat permintaan maaf tidak hadir selama masa kecil, banyak dari kita mengadopsi "perisai verbal".

Melansir dari Geediting.com pada Sabtu (28/6) menyoroti tujuh frasa umum yang dipakai sebagai mekanisme koping dalam momen tidak nyaman. Ini adalah cara otak kita melindungi diri dari rasa sakit yang pernah dialami.

1. "Tidak Apa-apa, Jangan Khawatir"
Frasa ini terdengar sopan, namun sering kali menyembunyikan perasaan tertekan yang kuat. Mengucapkan "tidak apa-apa" berarti kita menghindari kesulitan mengakui emosi sesungguhnya. Ketegangan yang tidak terucap ini bisa muncul sebagai ketegangan otot kronis atau kelelahan tak terjelaskan.

Menekan rasa sakit memang melindungi kita saat itu, namun mencegah orang lain mengenal kita sepenuhnya. Hal ini juga memperkuat keyakinan bahwa ketidaknyamanan kita tidaklah valid. Pada akhirnya, ini mengikis rasa harga diri kita perlahan-lahan.

2. "Sepertinya Aku Hanya Berlebihan"
Kalimat ini sering digunakan untuk mengecilkan emosi sebelum orang lain bisa mengkritiknya. Melabeli diri sebagai "terlalu banyak" adalah jalan cepat menuju keraguan diri. Ini adalah siklus "invalidasi diri" yang mengikis jembatan antara pengalaman dan ekspresi.

Orang dewasa yang meremehkan perasaan mereka saat kecil cenderung mengembangkan gangguan kecemasan. Frasa ini tidak hanya menghambat komunikasi otentik. Itu juga menyulitkan orang lain untuk benar-benar mendukung Anda.

3. "Terserah. Itu Tidak Penting"
Kata "tersesah" ini setara dengan membangun dinding verbal untuk mengakhiri percakapan segera. Itu bertujuan menjaga kerentanan tetap tersembunyi dan menghindari konflik. Ketika kita memilih ketidakjelasan, kita menghindar dari konflik.

Frasa ini muncul saat seseorang takut menjadi beban bagi orang lain. Akan tetapi, stonewalling bisa menguras keintiman dalam hubungan. Mungkin terasa lebih mudah dalam jangka pendek, tetapi secara konsisten menciptakan jarak dan kesalahpahaman.

4. "Maaf – Salahku" (Berulang Kali)
Terlalu sering meminta maaf bisa terlihat seperti kerendahan hati, padahal sering menyembunyikan ketakutan mendalam akan konflik. Tumbuh tanpa permintaan maaf yang otentik membuat kita terbiasa melakukannya berlebihan. Ini terjadi bahkan untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita sama sekali.

Refleks ini seringkali diasumsikan sebagai rasa bersalah. Mengganti permintaan maaf refleksif dengan "terima kasih atas kesabaranmu" mengalihkan fokus dari menyalahkan diri. Itu mengarah pada rasa saling menghormati antara kedua belah pihak.

5. "Mari Kita Lupakan Saja"
Frasa ini terdengar efisien, tetapi kecepatan bisa menjadi samaran untuk penghindaran. Mengatakan ini sering berarti ketakutan bahwa berlama-lama akan membuka luka lama. Melanjutkan hidup memang sehat setelah kedua belah pihak merasa didengarkan sepenuhnya.

Mendorong maju tanpa jeda dapat menyebabkan penumpukan emosional. Ini pada akhirnya akan meledak di waktu yang salah. Mengambil napas dan bertanya "Apa yang kita butuhkan agar siap melangkah maju?" dapat menghasilkan jawaban singkat namun bermakna.

6. "Aku Sudah Terbiasa"
Kita mengucapkan kalimat ini sambil mengangkat bahu, namun subteksnya adalah sikap pasrah yang mendalam. Kebiasaan ini menghalangi kita untuk meminta perubahan nyata dalam hidup. Ketika Anda mengatakan "Aku sudah terbiasa," Anda membenarkan status quo.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore