Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Juni 2025 | 03.52 WIB

Jika Kamu Membaca Ulang Email Berkali-kali Sebelum Mengirimnya, Kamu Cenderung Punya 8 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi

Jika Kamu Membaca Ulang Email Berkali-kali Sebelum Mengirimnya, Kamu Cenderung Punya 8 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi - Image

Jika Kamu Membaca Ulang Email Berkali-kali Sebelum Mengirimnya, Kamu Cenderung Punya 8 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi

JawaPos.com - Membaca ulang email lima kali sebelum menekan "Kirim" bukanlah kebiasaan aneh. Justru bisa jadi tanda dari delapan sifat psikologis yang diam-diam merupakan kekuatan super: empati, pandangan jauh ke depan, hingga standar profesional yang tinggi.

Menekan tombol "Kirim" memang tidak seharusnya terasa seperti sedang menjinakkan bom waktu. Tapi entah kenapa, banyak orang yang melakukannya dengan jantung berdebar, seolah-olah seluruh kantor akan meledak jika ada satu koma yang salah tempat.

Mungkin kamu pernah membuka Draft untuk kesekian kalinya, memeriksa salam pembuka, mengganti tanda baca, bertanya-tanya apakah "Salam hormat" terdengar terlalu kaku, lalu mengulang baca dari atas lagi dan lagi.

Kedengarannya familiar?

Kebiasaan ini kerap disalahartikan sebagai perfeksionisme biasa. Tapi dari hasil obrolan dengan kolega, teman, dan sejumlah peneliti komunikasi, muncul pola menarik: para penyunting email serial ini punya profil psikologis khas yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pencinta tanda baca.

Dilansir dari VegOut, berikut adalah delapan ciri kepribadian yang sering muncul pada orang yang suka membaca ulang email sebelum mengirim.

Kalau kamu merasa relate, jangan buru-buru menyebut diri terlalu cerewet. Justru mungkin, kualitas-kualitas ini adalah aset tersembunyi yang perlu dirawat.

1. Memiliki Standar Tinggi Terhadap Diri Sendiri

Buat sebagian orang, email hanya alat komunikasi. Tapi buat kamu, email adalah representasi reputasi profesional.

Kesalahan ketik bisa terasa seperti mengenakan sepatu tidak serasi saat rapat penting. Secara teknis tetap berfungsi, tapi meninggalkan kesan yang kurang profesional.

Psikolog klinis Dr. Gordon Flett menyebut perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri sebagai dorongan untuk selalu memenuhi standar pribadi yang tinggi, yang bisa melahirkan karya hebat sekaligus obsesi terhadap detail seperti koma dan titik.

Jika mendengar pujian “berorientasi pada detail” membuatmu diam-diam panik karena terdengar seperti peringatan tersembunyi, maka kamu tahu kamu berada di kategori ini.

2. Komunikator yang Teliti

Dalam teori Lima Sifat Utama Kepribadian, kehati-hatian (conscientiousness) berkaitan erat dengan ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Kamu membaca ulang email untuk memastikan tidak ada janji samar, deadline yang kabur, atau istilah yang bisa menyesatkan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore