
Ilustrasi seorang people pleaser yang setuju membantu orang lain. (Rawpixel.com/Freepik)
JawaPos.com – Kita dibesarkan dalam budaya yang sangat menghargai orang-orang yang ramah, suka menolong, dan selalu siap membantu.
Tapi bagaimana jika sikap baik itu ternyata bukan berasal dari ketulusan hati, melainkan dari ketakutan?
Ketakutan akan ditolak, dikucilkan, atau dianggap egois. Inilah yang dialami oleh banyak orang yang memiliki sifat “people pleaser”.
Dikutip dari laman Medical News Today, kepribadian ini muncul ketika seseorang merasakan dorongan kuat untuk menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengorbankan dirinya sendiri.
Hal ini sering kali berasal dari pengalaman masa lalu. Bisa jadi seorang people pleaser tumbuh dalam lingkungan yang keras, penuh tuntutan, atau minim validasi emosional. Dalam kondisi ini, anak-anak belajar bahwa "baik" adalah satu-satunya cara agar diterima.
Dari luar, seorang people pleaser tampak seperti pribadi yang hangat dan penyayang. Tapi di dalam, mereka terus-menerus menahan diri, menekan amarah, dan menyembunyikan luka.
Mereka bukan membantu karena ingin, tapi karena takut dianggap egois, takut ditinggalkan, atau takut dicap buruk.
Menjadi people pleaser dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Seperti kehilangan batas diri, burnout emosional, rasa bersalah yang berlebihan, hingga memiliki hubungan yang tidak seimbang.
Melepaskan diri dari kebiasaan people pleasing memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.
Kamu bisa mulai dengan langkah sederhana, seperti mengenali polanya dengan menyadari kapan dan mengapa kamu merasa sulit untuk berkata "tidak".
Selain itu, kamu juga harus berlatih untuk menetapkan batas dengan belajar mengatakan "tidak" secara asertif tapi tetap sopan.
Validasi diri sendiri juga menjadi hal yang penting, kamu tidak harus selalu disukai untuk merasa cukup. Jika terus berlanjut, bisa dengan melakukan terapi atau konseling agar bisa membantu mengurai akar emosionalnya.
Bersikap baik itu bagus. Tapi kalau kebaikan muncul karena takut, bukan dari hati, itu bisa membuat kita merasa berat dan lelah.
People pleaser bukan orang yang salah, mereka cuma belum tahu kalau mencintai diri sendiri juga bagian dari kebaikan. Dan itu bukan egois, tapi sehat.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
