Ilustrasi seseorang yang memegang erat pasangannya (Dok. Pexels)
JawaPos.com - Di era dating apps seperti sekarang, hubungan romantis kerap diwarnai kecemasan: dari ghosting, respon chat yang lama, hingga ketidakjelasan status. Bagi sebagian orang, situasi ini bisa memicu overthinking berkepanjangan—apalagi jika mereka memiliki anxious attachment style.
Dilansir dari VeryWellMind.com pada Selasa (22/04), anxious attachment adalah pola keterikatan emosional yang membuat seseorang terus-menerus khawatir akan ditinggalkan pasangan. Fenomena ini bukan sekadar 'kepo biasa', melainkan akar psikologis yang terbentuk sejak kecil. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Anxious attachment bukan sekadar sifat posesif, melainkan pola perilaku yang muncul akibat pengalaman masa kecil. Menurut psikolog John Bowlby, gaya ini terbentuk ketika figur pengasuh (misalnya orang tua) inconsist dalam memberikan kasih sayang—kadang hangat, tiba-tiba menghilang. Bayangkan seperti charger yang soketnya longgar: listriknya nyambung tapi gampang putus.
Di dunia dating, orang dengan anxious attachment cenderung selalu mencari tanda-tanda penolakan. Contoh: saat chat pacar telat dibalas, pikiran langsung melompat ke skenario terburuk ("Dia pasti lagi bersama orang lain!"). Padahal, bisa saja ia sedang meeting atau kehabisan kuota. Psikolog Sabrina Romanoff menyebut ini sebagai "amplifikasi sinyal emosional" yang justru merusak hubungan.
2. Ciri-Ciri yang Muncul dalam Hubungan
Orang dengan anxious attachment sering terjebak dalam lingkaran setan: butuh kedekatan, tapi sulit percaya. Mereka mungkin membanjiri pasangan dengan pertanyaan seperti "Kamu masih sayang aku, kan?" atau cemburu buta saat pasangan berinteraksi dengan lawan jenis. Psikolog Yalda Safai menambahkan, pola ini juga kerap membuat penderanya menarik diri dari konflik karena takut diabaikan.
Fenomena texting anxiety juga umum terjadi. Seperti kisah Madeline (29) yang panik saat pasangan tak mengonfirmasi janji makan siang, padahal mereka baru bertemu sehari sebelumnya. Tanpa disadari, kebutuhan akan validasi ini justru membuat hubungan terasa pengap—ibarat motor yang terus dipaksa ngegas tapi oli-nya tak pernah diganti.
3. Mengapa Sering Tertarik ke Pasangan Avoidant?
Buku Attached karya Rachel Heller dan Amir Levine menjelaskan bahwa anxious attachment sering kali tertarik pada pasangan dengan gaya avoidant (menghindar). Kombinasi ini ibarat api dan air: si anxious ingin selalu dekat, sementara si avoidant justru menjauh saat dikejar. Ironisnya, orang anxious malah berusaha lebih keras untuk 'membuktikan' cintanya, padahal itu hanya memperparah dinamika tidak sehat.
Contoh nyatanya? Pasangan yang jarang membalas chat justru dianggap 'misterius dan menarik', meski sebenarnya tak siap berkomitmen. Padahal, hubungan sehat butuh keseimbangan—seperti tandem sepeda yang harus kayuh bersamaan agar tidak oleng.
4. Cara Meminimalisasi Dampak Negatif
Langkah pertama adalah menyadari pola ini. Psikolog Safai menyarankan untuk berlatih mengomunikasikan kebutuhan tanpa menuntut. Misalnya, alih-alih marah saat pasangan sibuk, katakan "Aku butuh quality time, kapan kita bisa dinner berdua?" Terapi profesional juga bisa membantu, seperti yang dialami Kelsey (32) yang memanfaatkan yoga dan breathwork untuk mengelola kecemasan.
Kunci lainnya adalah memilih pasangan dengan secure attachment—mereka yang konsisten memberi rasa aman. Dengan begitu, lambat laun otak akan belajar bahwa hubungan yang stabil itu nyata. Ingat: perubahan tak instan, tapi setiap langkah kecil—seperti memperbaiki mesin sedikit demi sedikit—akan membawa hasil jangka panjang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
