
Ilustrasi seorang anak kecil yang merasa bingung dan tertekan. (Freepik)
JawaPos.com - Masa kanak-kanak adalah fondasi penting bagi perkembangan kepribadian seseorang. Pola asuh yang diterima seorang anak akan membentuk cara mereka berinteraksi dengan dunia dan orang lain di kemudian hari. Sayangnya, tidak semua pola asuh bersifat terbuka dan suportif.
Satu di antara pola asuh yang bisa meninggalkan jejak mendalam adalah pola asuh pasif agresif. Melansir geediting.com pada Sabtu (19/4), anak-anak yang tumbuh dengan orang tua pasif-agresif sering kali menunjukkan perilaku tertentu tanpa menyadarinya.
1. Komunikasi Tidak Langsung
Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua pasif-agresif sering kali kesulitan untuk berkomunikasi secara langsung. Mereka mungkin cenderung menggunakan sindiran, sarkasme, atau bahkan diam untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau kemarahan mereka. Pola ini terbentuk karena mereka belajar bahwa mengungkapkan perasaan secara terbuka tidak aman atau akan berujung pada konflik yang tidak sehat.
2. Sulit Mengungkapkan Kemarahan
Mengungkapkan kemarahan adalah emosi yang wajar, namun bagi individu yang tumbuh dengan orang tua pasif-agresif, hal ini bisa menjadi tantangan besar. Mereka mungkin menekan atau menyangkal kemarahan mereka, atau bahkan mengalihkannya menjadi perilaku pasif seperti menunda-nunda atau "melupakan" sesuatu. Ini terjadi karena mereka mungkin pernah dihukum atau diabaikan saat mencoba mengungkapkan kemarahan di masa kecil.
3. Takut Konfrontasi
Konfrontasi sering kali dihindari oleh orang-orang yang tumbuh dengan orang tua pasif-agresif. Mereka mungkin merasa cemas atau tidak nyaman saat menghadapi perbedaan pendapat atau konflik secara langsung. Hal ini disebabkan oleh pengalaman masa lalu di mana konfrontasi dengan orang tua mereka mungkin tidak pernah diselesaikan secara sehat atau konstruktif.
4. Terlalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain
Untuk menghindari konflik atau penolakan, individu yang dibesarkan dalam lingkungan pasif-agresif mungkin mengembangkan kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain. Mereka mungkin kesulitan mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan yang sehat karena takut mengecewakan atau membuat orang lain marah.
5. Terlalu Menganalisis Situasi
Karena komunikasi di rumah masa kecil mereka sering kali tidak jelas dan penuh dengan pesan tersembunyi, orang-orang ini mungkin mengembangkan kebiasaan untuk menganalisis setiap situasi secara berlebihan. Mereka mungkin mencoba membaca pikiran orang lain atau mencari makna tersembunyi dalam setiap interaksi, yang bisa menyebabkan stres dan kecemasan.
Baca Juga: Pria yang Menguasai Seni Empati Sering Melakukan 7 Hal Ini Setiap Hari, Dan Itu Bukan Kebetulan!
6. Perjuangan dengan Harga Diri
Pola asuh pasif-agresif sering kali merusak harga diri anak. Pesan-pesan negatif yang disampaikan secara tidak langsung atau melalui manipulasi emosional dapat membuat anak merasa tidak berharga atau tidak cukup baik. Akibatnya, mereka mungkin terus berjuang dengan masalah harga diri di masa dewasa.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
