Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 April 2025 | 22.46 WIB

7 Perilaku Anak yang Tumbuh dalam Pola Asuh Orang Tua Pasif-Agresif, Tanpa Mereka Sadari

Ilustrasi seorang anak kecil yang merasa bingung dan tertekan. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang anak kecil yang merasa bingung dan tertekan. (Freepik)

JawaPos.com - Masa kanak-kanak adalah fondasi penting bagi perkembangan kepribadian seseorang. Pola asuh yang diterima seorang anak akan membentuk cara mereka berinteraksi dengan dunia dan orang lain di kemudian hari. Sayangnya, tidak semua pola asuh bersifat terbuka dan suportif.

Satu di antara pola asuh yang bisa meninggalkan jejak mendalam adalah pola asuh pasif agresif. Melansir geediting.com pada Sabtu (19/4), anak-anak yang tumbuh dengan orang tua pasif-agresif sering kali menunjukkan perilaku tertentu tanpa menyadarinya.

1. Komunikasi Tidak Langsung

Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua pasif-agresif sering kali kesulitan untuk berkomunikasi secara langsung. Mereka mungkin cenderung menggunakan sindiran, sarkasme, atau bahkan diam untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau kemarahan mereka. Pola ini terbentuk karena mereka belajar bahwa mengungkapkan perasaan secara terbuka tidak aman atau akan berujung pada konflik yang tidak sehat.

2. Sulit Mengungkapkan Kemarahan

Mengungkapkan kemarahan adalah emosi yang wajar, namun bagi individu yang tumbuh dengan orang tua pasif-agresif, hal ini bisa menjadi tantangan besar. Mereka mungkin menekan atau menyangkal kemarahan mereka, atau bahkan mengalihkannya menjadi perilaku pasif seperti menunda-nunda atau "melupakan" sesuatu. Ini terjadi karena mereka mungkin pernah dihukum atau diabaikan saat mencoba mengungkapkan kemarahan di masa kecil.

3. Takut Konfrontasi

Konfrontasi sering kali dihindari oleh orang-orang yang tumbuh dengan orang tua pasif-agresif. Mereka mungkin merasa cemas atau tidak nyaman saat menghadapi perbedaan pendapat atau konflik secara langsung. Hal ini disebabkan oleh pengalaman masa lalu di mana konfrontasi dengan orang tua mereka mungkin tidak pernah diselesaikan secara sehat atau konstruktif.

4. Terlalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain

Untuk menghindari konflik atau penolakan, individu yang dibesarkan dalam lingkungan pasif-agresif mungkin mengembangkan kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain. Mereka mungkin kesulitan mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan yang sehat karena takut mengecewakan atau membuat orang lain marah.

5. Terlalu Menganalisis Situasi

Karena komunikasi di rumah masa kecil mereka sering kali tidak jelas dan penuh dengan pesan tersembunyi, orang-orang ini mungkin mengembangkan kebiasaan untuk menganalisis setiap situasi secara berlebihan. Mereka mungkin mencoba membaca pikiran orang lain atau mencari makna tersembunyi dalam setiap interaksi, yang bisa menyebabkan stres dan kecemasan.

6. Perjuangan dengan Harga Diri

Pola asuh pasif-agresif sering kali merusak harga diri anak. Pesan-pesan negatif yang disampaikan secara tidak langsung atau melalui manipulasi emosional dapat membuat anak merasa tidak berharga atau tidak cukup baik. Akibatnya, mereka mungkin terus berjuang dengan masalah harga diri di masa dewasa.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore