Ilustrasi orang yang berusaha menjatuhkan rekan kerjanya lewat pujian. (Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa salah tingkah atau tidak nyaman saat menerima pujian? Reaksi ini mungkin tampak aneh bagi sebagian orang, namun bagi sebagian lainnya, rasa canggung saat dipuji adalah hal yang wajar.
Ternyata, pengalaman di masa kecil bisa menjadi faktor penting yang memengaruhi bagaimana seseorang menerima dan merespons pujian di kemudian hari. Melansir dari
geediting.com Rabu (16/4), ada beberapa pengalaman masa kecil yang sering dikaitkan dengan perasaan tidak nyaman saat menerima pujian.
Memahami akar penyebab rasa canggung saat dipuji dapat membantu kita atau orang terdekat kita untuk mengatasi perasaan tersebut.
Berikut adalah tujuh pengalaman masa kecil yang seringkali menjadi penyebab mengapa seseorang merasa tidak nyaman saat dipuji.
1. Sering diremehkan atau dikritik.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana mereka sering diremehkan atau dikritik mungkin mengembangkan keyakinan bahwa mereka tidak layak menerima pujian. Mereka terbiasa mendengar hal-hal negatif tentang diri mereka, sehingga pujian terasa asing dan tidak sesuai dengan citra diri yang terbentuk.
2. Pujian yang tidak tulus atau bersyarat.
Menerima pujian yang terasa tidak tulus atau hanya diberikan ketika anak melakukan sesuatu yang diinginkan orang tua juga dapat menimbulkan kebingungan. Anak-anak belajar bahwa pujian tidak selalu berarti apresiasi yang sesungguhnya, sehingga mereka menjadi curiga setiap kali dipuji.
3. Kurangnya validasi emosional.
Ketika anak-anak tidak mendapatkan validasi atas perasaan dan pencapaian mereka, mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang meragukan nilai diri mereka. Pujian dari orang lain mungkin terasa tidak relevan atau bahkan bertentangan dengan perasaan tidak berharga yang mereka Internalisasikan.
4. Tekanan untuk selalu sempurna.
Tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kesempurnaan dapat membuat anak-anak merasa takut gagal atau tidak memenuhi ekspektasi. Pujian mungkin terasa seperti tekanan tambahan untuk terus mempertahankan standar yang tinggi, sehingga menimbulkan kecemasan.
5. Pengalaman perundungan atau ejekan.
Anak-anak yang pernah menjadi korban perundungan atau ejekan mungkin mengembangkan rasa tidak percaya terhadap orang lain, termasuk ketika mereka menerima pujian. Mereka mungkin menganggap pujian sebagai bentuk sarkasme atau lelucon belaka.
6. Pujian yang berlebihan atau tidak realistis.
Meskipun pujian umumnya dianggap positif, pujian yang terlalu berlebihan atau tidak realistis justru dapat membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Mereka mungkin merasa bahwa pujian tersebut tidak tulus atau memiliki maksud tersembunyi.
7. Pola asuh yang tidak konsisten.
Pola asuh yang tidak konsisten, di mana terkadang anak dipuji dan di lain waktu diabaikan atau dikritik tanpa alasan yang jelas, dapat menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan pada anak. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana harus menanggapi pujian karena pengalaman mereka yang tidak stabil.
Pengalaman-pengalaman masa kecil ini dapat membentuk persepsi seseorang tentang dirinya sendiri dan bagaimana mereka menerima validasi dari orang lain. Memahami hubungan antara pengalaman masa lalu dan respons terhadap pujian di masa kini adalah langkah awal yang penting untuk membangun rasa percaya diri dan kemampuan menerima apresiasi dengan lebih baik.