Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 April 2025 | 15.55 WIB

Orang yang Sering Diabaikan secara Emosional Tapi Memiliki Keuangan yang Stabil, Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini

Ilustrasi anak yang diabaikan orang tuanya secara emosional.(freepik.com/jcomp) - Image

Ilustrasi anak yang diabaikan orang tuanya secara emosional.(freepik.com/jcomp)

JawaPos.com - Tumbuh dalam lingkungan dengan keuangan yang stabil adalah impian setiap orang, di mana mereka tidak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.

Namun pada kenyataannya, bukan itulah satu-satu faktor kebahagiaan. Banyak anak yang tumbuh dengan keuangan stabil tapi sering diabaikan secara emosional, hingga tangki kasih sayang mereka terasa kosong.

Melansir dari laman News Reports pada Senin (14/04), orang yang sering diabaikan secara emosional tapi memiliki keuangan yang stabil, biasanya menunjukkan 7 perilaku ini :

1. Kesulitan dalam mengekspresikan emosi

Tumbuh di rumah yang terabaikan secara emosional seringkali dapat menyulitkan untuk mengekspresikan perasaan. Soalnya, ketika ekspresi emosional tidak didorong, anak-anak cenderung menekan emosi sebagai mekanisme pertahanan.

Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang berjuang dengan memahami dan mengekspresikan emosi sendiri, hingga dapat menghambat hubungan interpersonal. Mungkin sulit untuk mengungkapkan perasaan ke dalam kata-kata atau bahkan mengenalinya.

2. Berjuang untuk kesempurnaan

Kebutuhan tak henti-hentinya akan kesempurnaan ini sering kali berasal dari lingkungan yang terabaikan secara emosional. Ketika dukungan emosional kurang, anak-anak mungkin menyamakan kesuksesan dengan cinta dan penerimaan.

Oleh karena itu, pengejaran kesempurnaan tanpa henti. Tapi penting untuk diingat bahwa semua manusia dan kesalahan adalah bagian dari proses pertumbuhan.

3. Kesulitan menetapkan batasan

Tumbuh di rumah di mana kebutuhan emosional diabaikan, cenderung mengabaikan kebutuhan emosional sendiri hingga dewasa. Kita mungkin jadi mudah menyenangkan orang, selalu menempatkan orang lain di atas diri sendiri atau membiarkan orang lain melampaui batas.

Tapi inilah kebenarannya, sangat penting untuk menghormati kebutuhan emosional sendiri dan belajar menetapkan batasan. Itu tidak egois tapi suatu perawatan diri.

4. Ketergantungan yang berlebihan pada validasi eksternal

Kamu mungkin merasa tidak terlihat atau tidak didengar. Hal ini dapat menyebabkan kebiasaan mencari penegasan eksternal sebagai orang dewasa, seperti =mendambakan persetujuan dari teman sebaya, kolega, atau bahkan orang asing di media sosial, hanya untuk merasa dilihat atau dihargai.

Harga diri sejati tidak ditentukan oleh validasi eksternal, ini semua tentang memahami dan menerima nilai sendiri, terlepas dari pendapat orang lain.

5. Kesulitan mempercayai orang lain

Ketika tangisan emosional Anda tidak terdengar, percayalah pada orang lain untuk memahami dan mendukung Anda bisa menjadi tantangan. Akibatnya, mungkin kamu akan menemukan diri berhati-hati atau bahkan skeptis terhadap orang lain, serta ragu-ragu untuk membuka atau berbagi perasaan.

Namun, membangun kepercayaan sangat penting dalam membentuk hubungan yang bermakna. Ini mungkin membutuhkan waktu, tetapi itu pasti dapat dicapai dengan upaya dan pemahaman yang sadar.

6. Keraguan diri yang konstan

Banyak dari kita yang tumbuh di rumah yang terabaikan secara emosional sering bergumul dengan keraguan diri. Kita mungkin sering mempertanyakan nilai, kemampuan, atau keputusan, bahkan ketika bukti menunjukkan sebaliknya.

Tapi inilah sesuatu yang perlu kamu ingat. Tidak apa-apa untuk memiliki keraguan, tetapi jangan biarkan mereka membayangi kekuatan dan pencapaian.

7. Ketidaknyamanan dengan kerentanan

Kerentanan bisa sulit untuk diterima, terutama jika pengalaman emosional secara rutin diabaikan. Mereka jadi sulit membuka diri, berbagi perasaan, atau membiarkan orang lain melihat dirimu yang sebenarnya.

Tapi faktanya, menunjukkan kerentanan adalah langkah berani menuju penerimaan diri dan pertumbuhan emosional.

Mengutip dari laman Parent Binus pada Senin (14/04) bahwa ada beberapa sikap orang tua yang mengabaikan emosional anak, yakni ketika prestasinya tidak di apresiasi dan tidak hadir secara penuh.

Oleh karena itu, sebagai orang tua perlu memahami hal ini agar mereka bisa tumbuh dengan baik dan terpenuhi secara emosional, bukan sebatas keuangannya saja.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore