
Interaksi hangat antara generasi boomer dan generasi muda (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Beberapa waktu lalu, terdengar percakapan dua remaja di sebuah kedai kopi. Salah satunya tampak panik karena jumlah pengikut di sebuah platform media sosial—yang bahkan belum terlalu dikenal, dirasa masih kurang.
Temannya kemudian mencoba menenangkan dengan mengatakan, “Santai saja, tinggal sering-sering posting dan bikin yang relatable.” Momen itu cukup membuka mata, betapa besar tekanan yang dihadapi generasi muda saat ini. Bukan hanya soal berhasil, tetapi juga bagaimana cara menunjukkan keberhasilan itu ke publik.
Tak bisa dimungkiri, teknologi telah mengubah banyak hal dalam hidup. Namun, ada sesuatu yang membumi dari cara Generasi X—yakni mereka yang lahir sekitar pertengahan 1960-an hingga awal 1980-an—menjalani hidup. Mereka tumbuh tanpa notifikasi tanpa henti, unggahan yang serba sempurna, atau keharusan untuk terus tampil.
Setiap generasi tentu punya nilai yang bisa dibagikan. Namun, ada beberapa pelajaran hidup dari Generasi X yang patut kembali dipertimbangkan di era serba cepat seperti sekarang. Dilansir dari Geediting pada Minggu (13/4), berikut delapan di antaranya.
Di masa Generasi X, privasi adalah hal wajar, bukan pengecualian. Tidak ada Instagram Story untuk membagikan setiap hidangan, atau tweet harian tentang hal-hal yang mengganggu hati. Kehidupan tetap bermakna, tanpa merasa perlu memperlihatkannya ke semua orang.
Generasi saat ini tumbuh dalam budaya yang menganggap keterlihatan sebagai bentuk keberhasilan. Padahal, ada kekuatan dalam menyimpan sesuatu untuk diri sendiri. Tak semua hal indah perlu diumbar agar terasa nyata.
Generasi X terbiasa mencari solusi tanpa bantuan Google. Saat sesuatu rusak, mereka mencoba memperbaikinya sendiri. Saat harus membuat tugas, mereka rela membolak-balik katalog perpustakaan dan mencari buku yang dibutuhkan.
Jika tak tahu caranya, mereka bertanya atau mencobanya hingga berhasil. Cara ini menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian yang kuat. Di zaman di mana segalanya bisa dicari dalam hitungan detik, keterampilan ini patut dipelajari kembali.
Ada anggapan yang diam-diam berkembang, bahwa makin sibuk seseorang, makin penting dirinya. Generasi X menyaksikan orang tua mereka bekerja tanpa henti, bahkan kadang menggantungkan harga diri pada pekerjaan. Saat dewasa, banyak dari mereka justru memilih jalan berbeda.
Generasi ini sudah lebih dulu menolak budaya kerja berlebihan, jauh sebelum istilah work-life balance jadi tren. Mereka tetap bekerja keras, tetapi tak segan rehat, melepas gadget, atau libur sejenak tanpa rasa bersalah.
Bosan adalah hal biasa bagi Generasi X. Mulai dari menunggu di ruang tunggu, duduk di mobil tanpa musik, hingga menemani orang tua berbelanja. Kondisi ini membuat pikiran mereka bebas melayang ke mana-mana.
Tanpa sadar, rasa bosan bisa memicu ide-ide kreatif. Berbeda dengan sekarang, di mana hampir setiap jeda waktu diisi dengan menggulir layar ponsel. Padahal, membiarkan pikiran kosong sejenak bisa membuka ruang bagi gagasan baru yang segar.
Karena tumbuh tanpa media sosial, Generasi X tak terbiasa mengejar likes atau komentar positif. Mereka membangun kepercayaan diri tanpa harus mendapat tepuk tangan virtual. Tidak menjadi tren bukan masalah bagi mereka.
Generasi muda kerap merasa harus menyenangkan semua orang. Padahal, tak semua orang harus menyukai kita. Kadang, menjadi diri sendiri berarti siap tidak disukai. Dan, meski tidak nyaman, itu justru membuat hidup terasa lebih jujur dan ringan.
Di era sekarang, segalanya terasa harus cepat. Mulai dari karier, hubungan, hingga popularitas. Jika tak viral dalam semalam, seolah tidak berarti. Namun, Generasi X berjalan dengan cara berbeda.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
