
Orang yang memberi komentar menghakimi di media sosial. (Pexels)
JawaPos.com - Menavigasi lanskap digital media sosial bisa jadi rumit. Anda sedang menelusuri feed, lalu tiba-tiba menemukan sebuah komentar yang membuat dahi berkerut atau dada sedikit sesak. Orang yang memberi komentar menghakimi tampaknya selalu ada di mana-mana, entah dalam bentuk sindiran halus atau kritik pedas yang kasar.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mendorong mereka melakukan itu? Apa yang ada di balik pola pikir dan ciri kepribadian mereka? Dilansir dari News Reports, berikut adalah delapan alasan yang mungkin menjadi penyebabnya.
1. Mereka Ingin Menutup Ruang Diskusi
Pernah melihat komentar yang seakan-akan tidak memberi ruang untuk pendapat lain? Ini berhubungan dengan konsep kebutuhan akan penutupan kognitif dalam psikologi. Beberapa orang merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian dan lebih suka jawaban yang pasti, tanpa ambiguitas.
Di media sosial, hal ini sering diwujudkan dalam komentar yang menghakimi. Mereka melihat suatu postingan, cepat membentuk opini, dan langsung mengutarakannya tanpa mempertimbangkan sudut pandang lain. Mereka ingin diskusi berakhir sesuai dengan pemikiran mereka, bukan berkembang menjadi percakapan terbuka.
2. Mereka Berpikir Secara Biner
Pemikiran biner adalah pola pikir yang melihat dunia dalam hitam atau putih, benar atau salah, baik atau buruk—tanpa ruang untuk area abu-abu. Orang yang memberi komentar menghakimi sering kali memiliki cara berpikir ini.
Mereka tidak melihat kemungkinan adanya perspektif lain. Jika anda tidak setuju dengan mereka, maka menurut mereka anda otomatis salah. Cara berpikir seperti ini membuat diskusi menjadi tidak produktif karena tidak ada ruang untuk pemahaman yang lebih dalam.
3. Minim Empati
Kurangnya empati adalah salah satu ciri kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang memberi komentar menghakimi. Mereka gagal memahami bahwa di balik setiap akun ada orang sungguhan dengan perasaan nyata.
Di dunia nyata, kita bisa melihat ekspresi wajah seseorang saat berbicara. Namun di media sosial, jarak emosional ini hilang. Hal ini membuat mereka lebih mudah mengkritik dan menghakimi tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang lain.
4. Menggunakan Media Sosial untuk Validasi Diri
Terkadang, komentar menghakimi bukanlah tentang anda tetapi tentang mereka sendiri. Banyak orang menggunakan media sosial sebagai cara untuk mendapatkan validasi dari orang lain.
Mereka ingin menegaskan pandangan mereka dan mendapatkan dukungan dari audiens yang setuju. Ini bukan sekadar soal berbagi opini, tetapi juga mencari pengakuan. Sayangnya, mereka sering melakukannya dengan cara yang merendahkan orang lain agar terlihat lebih superior.
5. Mereka Menunjukkan Bias Konfirmasi yang Kuat

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
