JawaPos.com - Menjalin hubungan tidak selalu mudah. Terkadang, kita bertemu dengan orang-orang yang selalu merasa diperlakukan tidak adil—atau setidaknya, itulah yang mereka ingin kita percayai.
Ada perbedaan antara benar-benar menjadi korban dan memainkan peran korban secara terus-menerus. Sikap yang terakhir sering kali digunakan sebagai strategi untuk menarik simpati, menghindari tanggung jawab, atau bahkan mengontrol situasi.
Nah, jika seorang perempuan erbiasa bersikap seperti korban, ada beberapa pola perilaku yang mungkin sering ia tunjukkan.
Berikut adalah tujuh tanda yang bisa menjadi sinyal bahaya dalam sebuah hubungan, dikutip dari Small Business Bonfire, Selasa (4/3).
1. Selalu Menyalahkan Orang Lain
Dalam hubungan apa pun, tanggung jawab adalah hal yang penting. Namun, perempuan yang terus-menerus berperan sebagai korban cenderung enggan mengakui kesalahannya.
Sebaliknya, ia lebih suka menyalahkan orang lain, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya berada dalam kendalinya.
Mengapa? Karena dengan berperan sebagai korban, ia bisa terbebas dari konsekuensi dan mendapatkan simpati dari orang-orang di sekitarnya.
Jika Anda sering melihat pola ini—di mana setiap masalah selalu dianggap sebagai kesalahan orang lain—maka bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki mentalitas korban.
2. Terlalu Berusaha Terlihat Optimis
Mungkin terdengar aneh, tapi perempuan yang sering merasa jadi korban terkadang justru menampilkan sikap yang terlalu positif. Ia mungkin akan terus menekankan bahwa ia selalu berpikir optimis dan berharap yang terbaik, bahkan dalam situasi sulit.
Mengapa demikian? Ini bisa menjadi salah satu cara untuk memanipulasi orang lain agar semakin merasa iba terhadapnya. Dengan menampilkan diri sebagai orang yang "tabah" menghadapi kesulitan, ia dapat memperoleh perhatian dan simpati lebih banyak.
Optimisme sejati memang baik, tetapi jika itu hanya dijadikan alat untuk menarik perhatian, maka perlu diwaspadai.
3. Sering Mengungkit Masa Lalu
Perempuan yang selalu merasa sebagai korban biasanya sulit untuk melepaskan kejadian-kejadian di masa lalu. Ia sering mengungkit kesalahan atau pertengkaran lama, bahkan jika masalah tersebut sudah dibahas dan diselesaikan.
Mengapa ini terjadi? Karena dengan terus mengingat masa lalu, ia bisa mempertahankan statusnya sebagai korban dan terus mendapatkan simpati.
Jika Anda sering menghadapi pasangan atau teman yang tidak bisa move on dari kesalahan atau konflik lama, mungkin sudah saatnya untuk menetapkan batasan yang lebih sehat dalam hubungan tersebut.
4. Selalu Ada dalam Situasi Penuh Drama
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu dikelilingi oleh masalah, ke mana pun ia pergi? Jika seseorang terus-menerus berada dalam situasi penuh konflik dan drama, itu bisa jadi pertanda bahwa ia memainkan peran korban sebagai bagian dari pola hidupnya.
Bukan berarti ia sengaja menciptakan masalah, tetapi terkadang, orang dengan mentalitas korban merasa lebih nyaman dalam lingkungan yang penuh kekacauan karena itu memperkuat perannya sebagai orang yang "tertindas".
Setiap orang pasti mengalami tantangan dalam hidup. Namun, jika seseorang selalu menjadi pusat dari setiap konflik yang terjadi, ada baiknya untuk mulai mengevaluasi hubungan dengannya.
5. Cenderung Membesar-besarkan Masalah
Orang yang memiliki mentalitas korban sering kali melihat masalah kecil sebagai sesuatu yang besar dan berat. Perdebatan kecil bisa berubah menjadi pertengkaran besar, dan kesalahan kecil bisa dianggap sebagai bencana.
Mengapa? Karena semakin besar masalah yang mereka alami, semakin banyak simpati yang mereka dapatkan dari orang-orang di sekitar mereka.
Tentu saja, penting untuk menghargai perasaan seseorang. Namun, jika masalah yang sebenarnya sepele selalu dibuat dramatis, maka kemungkinan besar itu adalah bagian dari strategi manipulatif.
6. Sulit Menerima Pujian
Mungkin terdengar aneh, tetapi perempuan yang sering merasa sebagai korban sering kali sulit menerima pujian.
Saat seseorang memberikan pujian, ia mungkin akan meremehkan pencapaiannya sendiri atau menolak untuk menerimanya. Ini karena menerima pujian bisa bertentangan dengan citra dirinya sebagai orang yang selalu menderita atau dirugikan.
Sikap ini bisa membuat hubungan menjadi tidak sehat, karena sulit untuk membangun interaksi yang positif jika seseorang selalu melihat dirinya dalam posisi rendah dan tidak berharga.
7. Memiliki Masalah dengan Kepercayaan Diri
Pada akhirnya, kebiasaan berperan sebagai korban sering kali berasal dari masalah dengan harga diri yang rendah.
Perempuan yang terus-menerus merasa sebagai korban mungkin memiliki keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik atau tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.
Akibatnya, ia secara tidak sadar menempatkan dirinya dalam situasi yang membuatnya terus-menerus merasa dirugikan.
Melihat orang yang kita pedulikan mengalami hal ini tentu menyakitkan. Namun, perlu diingat bahwa meningkatkan kepercayaan diri adalah tanggung jawab masing-masing individu. Anda bisa mendukungnya, tetapi perubahan hanya bisa terjadi jika ia sendiri mau berusaha.