Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Maret 2025 | 20.18 WIB

Kesuksesan Orang Lain Bukanlah Kegagalan Anda! 8 Kebiasaan Sulit Melihat yang Lain Sukses

Ilustrasi. (freepik) - Image

Ilustrasi. (freepik)

JawaPos.com-Kesuksesan adalah sesuatu yang seharusnya dirayakan, baik itu pencapaian pribadi maupun keberhasilan orang lain. Namun, tidak semua orang bisa merasakan kebahagiaan atas kemenangan orang lain. Ada sebagian orang yang justru merasa terganggu atau cemburu saat melihat orang lain berhasil.

Sikap seperti ini biasanya tidak datang begitu saja. Ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang menandakan seseorang kesulitan menerima keberhasilan orang lain. Dalam dunia yang penuh dengan persaingan, mengenali tanda-tanda ini bisa membantu kita menjaga hubungan sosial yang sehat dan tetap fokus pada pertumbuhan diri sendiri.

Berikut ini delapan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahan melihat orang lain sukses.

1. Meremehkan Kesuksesan Orang Lain


Salah satu tanda paling jelas dari seseorang yang sulit menerima keberhasilan orang lain adalah kebiasaannya meremehkan pencapaian tersebut. Mereka seringkali mengatakan bahwa kesuksesan orang lain hanyalah keberuntungan atau sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu istimewa.

Misalnya, ketika seseorang mendapat promosi di tempat kerja, mereka mungkin berkata, "Dia hanya beruntung karena atasan menyukainya," atau "Siapa saja bisa mendapatkan posisi itu." Sikap ini muncul karena rasa tidak aman yang mendalam. Alih-alih terinspirasi, mereka merasa terancam oleh pencapaian orang lain.

2. Selalu Mencari Kekurangan dalam Pencapaian Orang Lain


Beberapa orang sulit menerima bahwa ada orang lain yang lebih sukses dari mereka. Oleh karena itu, mereka cenderung mencari-cari kesalahan atau kekurangan dalam pencapaian orang lain.

Misalnya, ketika seseorang membeli rumah baru, mereka mungkin berkata, "Ya, tapi cicilannya pasti mahal sekali," atau "Rumahnya bagus, tapi lokasinya kurang strategis." Sikap ini bukan tentang memberikan pendapat yang objektif, melainkan usaha untuk mengurangi nilai dari keberhasilan orang lain agar mereka sendiri merasa lebih baik.

3. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Orang yang tidak bisa menerima keberhasilan orang lain sering kali melihat hidup sebagai sebuah kompetisi tanpa akhir. Mereka tidak bisa merasa puas dengan apa yang mereka miliki, karena selalu ada orang lain yang lebih sukses.

Pola pikir seperti ini bisa sangat merugikan. Studi menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Alih-alih fokus pada pencapaian pribadi, mereka sibuk mengukur diri mereka sendiri berdasarkan keberhasilan orang lain.

4. Merayakan Kegagalan Orang Lain

Tidak ada yang lebih jelas menunjukkan rasa iri seseorang selain bagaimana mereka bereaksi terhadap kegagalan orang lain. Jika mereka merasa senang atau puas ketika seseorang mengalami kemunduran, itu tanda bahwa mereka sulit menerima keberhasilan orang lain.

Misalnya, ketika seorang rekan bisnis mengalami kerugian, mereka mungkin berpikir, "Baguslah, sekarang dia tahu rasanya." Sikap seperti ini menunjukkan bahwa mereka lebih fokus pada bagaimana orang lain gagal daripada bagaimana mereka bisa sukses sendiri.

5. Kesulitan Memberikan Pujian yang Tulus

Pujian adalah bentuk penghargaan yang tulus terhadap pencapaian seseorang. Namun, orang yang tidak suka melihat orang lain sukses akan merasa sulit memberikan pujian yang tulus. Jika pun mereka memberikan pujian, sering kali terdengar dipaksakan atau disertai dengan komentar negatif.

Misalnya, mereka mungkin berkata, "Selamat ya! Tapi jangan lupa, mempertahankannya lebih sulit daripada mencapainya." Pujian seperti ini sering kali memiliki maksud tersembunyi yang justru meragukan keberhasilan orang lain.

6. Menganggap Orang Sukses Tidak Layak Mendapatkannya

Sebagian orang percaya bahwa kesuksesan hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki keuntungan tertentu, seperti kekayaan atau koneksi. Oleh karena itu, ketika melihat seseorang sukses, mereka langsung berasumsi bahwa orang tersebut tidak pantas mendapatkannya.

Mereka mungkin berkata, "Dia bisa sukses karena keluarganya kaya," atau "Kalau bukan karena kenalan di dalam, dia tidak akan mendapat posisi itu." Dengan berpikir seperti ini, mereka menghindari introspeksi dan tidak mau mengakui bahwa kerja keras dan ketekunan juga memainkan peran besar dalam kesuksesan seseorang.

7. Mengubah Segalanya Menjadi Sebuah Kompetisi

Beberapa orang tidak bisa membiarkan orang lain bersinar. Setiap kali seseorang berbagi kabar baik, mereka merasa perlu untuk menunjukkan bahwa mereka juga telah mencapai sesuatu yang lebih besar atau lebih baik.

Misalnya, jika seorang teman berbagi bahwa mereka baru saja mendapatkan promosi, mereka akan langsung menanggapi dengan, "Oh, aku juga baru saja mendapat proyek besar." Bagi mereka, tidak ada ruang untuk merayakan keberhasilan orang lain, karena mereka merasa harus selalu menjadi yang terbaik.

8. Percaya Bahwa Kesuksesan Orang Lain Mengurangi Peluang Mereka Sendiri

Di balik semua kebiasaan ini, ada satu keyakinan utama yang sering dimiliki oleh orang-orang yang tidak tahan melihat orang lain sukses: mereka percaya bahwa kesuksesan adalah sumber daya yang terbatas.

Mereka berpikir bahwa jika orang lain berhasil, maka peluang mereka untuk sukses akan semakin kecil. Padahal, kesuksesan bukanlah sesuatu yang terbatas—keberhasilan orang lain tidak akan mengurangi peluang kita untuk mencapai tujuan kita sendiri.

Rasa iri dan cemburu memang merupakan emosi yang alami. Namun, jika dibiarkan berkembang, perasaan ini bisa merusak hubungan sosial dan menghambat pertumbuhan pribadi.

Psikologi menunjukkan bahwa orang yang sering merasa iri cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah. Hal ini bukan karena mereka tidak cukup baik, tetapi karena mereka mengukur diri mereka sendiri berdasarkan pencapaian orang lain.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa kesuksesan orang lain bukanlah ancaman. Justru, keberhasilan mereka bisa menjadi motivasi bahwa kita juga mampu mencapai impian kita sendiri. Daripada membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus pada perjalanan dan pencapaian kita sendiri. Dengan begitu, kita bisa merasakan kebahagiaan yang lebih besar dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang-orang di sekitar kita.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore