Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Maret 2025 | 20.09 WIB

8 Ciri Kepribadian Anak yang Sering Melihat Orang Tua Bertengkar Menurut Psikologi, Apa Saja Ya?

Kepribadian anak sering melihat orang tua mereka bertengkar menurut Psikologi - Image

Kepribadian anak sering melihat orang tua mereka bertengkar menurut Psikologi

JawaPos.com – Pengalaman melihat orang tua bertengkar secara terus-menerus dapat membentuk kepribadian anak dengan cara yang kompleks.

Psikologi menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang penuh konflik emosional dapat memengaruhi pola pikir, respons emosi, serta interaksi sosial mereka di masa depan.

Anak-anak ini cenderung memiliki ciri khas tertentu yang mencerminkan dampak dari dinamika rumah tangga tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dilansir dari geediting.com pada Senin (3/3), diterangkan bahwa terdapat delapan ciri kepribadian anak yang sering melihat orang tua mereka sedang bertengkar menurut Psikologi.

1. Kepekaan tinggi terhadap konflik

Ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi pertengkaran, mereka cenderung mengembangkan semacam “radar internal” yang sangat sensitif terhadap konflik. Kemampuan untuk mendeteksi ketegangan bahkan dalam bentuknya yang paling halus ini muncul sebagai mekanisme pertahanan diri yang terbentuk sejak dini.

Sayangnya, kepekaan ini seringkali tidak bisa “dimatikan” bahkan ketika situasi sedang normal, yang mengakibatkan kewaspadaan dan kecemasan yang konstan. Kondisi ini bisa membuat mereka selalu merasa was-was dan siaga terhadap potensi konflik di sekitarnya, bahkan dalam situasi yang sebenarnya aman.

2. Kesulitan mengekspresikan emosi

Mereka yang tumbuh di tengah pertengkaran sering mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan mereka sendiri. Hal ini terlihat seperti paradoks karena meski terpapar emosi yang intens dan mentah selama masa kecil, justru membuat mereka kesulitan mengartikulasikan perasaan mereka sendiri.

Situasi ini mirip seperti orang yang tumbuh di rumah yang sering terbakar, kemudian menjadi sangat takut untuk menyalakan korek api. Ketakutan akan potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh luapan emosi membuat mereka cenderung menyimpan semuanya rapat-rapat.

3. Kecenderungan menjadi penengah

Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah penuh konflik seringkali tumbuh menjadi sosok pendamai dalam hubungan mereka sebagai orang dewasa. Mereka akan selalu berusaha meredakan ketegangan dan menghindari bentuk konfrontasi apapun.

Perilaku ini bukan sekadar tentang menjadi orang yang 'baik', tetapi berakar pada ketakutan mendalam terhadap konflik. Dorongan untuk menjadi penengah ini bisa dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi yang dulu membuat mereka merasa tak berdaya.

4. Kebutuhan akan kesendirian

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore