
Kepribadian anak sering melihat orang tua mereka bertengkar menurut Psikologi
JawaPos.com – Pengalaman melihat orang tua bertengkar secara terus-menerus dapat membentuk kepribadian anak dengan cara yang kompleks.
Psikologi menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang penuh konflik emosional dapat memengaruhi pola pikir, respons emosi, serta interaksi sosial mereka di masa depan.
Anak-anak ini cenderung memiliki ciri khas tertentu yang mencerminkan dampak dari dinamika rumah tangga tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dilansir dari geediting.com pada Senin (3/3), diterangkan bahwa terdapat delapan ciri kepribadian anak yang sering melihat orang tua mereka sedang bertengkar menurut Psikologi.
1. Kepekaan tinggi terhadap konflik
Ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi pertengkaran, mereka cenderung mengembangkan semacam “radar internal” yang sangat sensitif terhadap konflik. Kemampuan untuk mendeteksi ketegangan bahkan dalam bentuknya yang paling halus ini muncul sebagai mekanisme pertahanan diri yang terbentuk sejak dini.
Sayangnya, kepekaan ini seringkali tidak bisa “dimatikan” bahkan ketika situasi sedang normal, yang mengakibatkan kewaspadaan dan kecemasan yang konstan. Kondisi ini bisa membuat mereka selalu merasa was-was dan siaga terhadap potensi konflik di sekitarnya, bahkan dalam situasi yang sebenarnya aman.
2. Kesulitan mengekspresikan emosi
Mereka yang tumbuh di tengah pertengkaran sering mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan mereka sendiri. Hal ini terlihat seperti paradoks karena meski terpapar emosi yang intens dan mentah selama masa kecil, justru membuat mereka kesulitan mengartikulasikan perasaan mereka sendiri.
Situasi ini mirip seperti orang yang tumbuh di rumah yang sering terbakar, kemudian menjadi sangat takut untuk menyalakan korek api. Ketakutan akan potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh luapan emosi membuat mereka cenderung menyimpan semuanya rapat-rapat.
3. Kecenderungan menjadi penengah
Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah penuh konflik seringkali tumbuh menjadi sosok pendamai dalam hubungan mereka sebagai orang dewasa. Mereka akan selalu berusaha meredakan ketegangan dan menghindari bentuk konfrontasi apapun.
Perilaku ini bukan sekadar tentang menjadi orang yang 'baik', tetapi berakar pada ketakutan mendalam terhadap konflik. Dorongan untuk menjadi penengah ini bisa dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi yang dulu membuat mereka merasa tak berdaya.
4. Kebutuhan akan kesendirian

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
