
Ilustrasi fraud dan kejahatan siber mengintai masyarakat di tengah berkembangnya tren belanja online. (Retail Customer Experience).
JawaPos.com – Kemudahan layanan keuangan digital seperti mobile banking, internet banking, dompet digital, hingga pembayaran berbasis QR telah mengubah cara masyarakat bertransaksi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ancaman kejahatan siber terus berkembang dengan berbagai modus yang semakin canggih dan sulit dikenali.
Pendiri Lembaga Riset Siber Independen Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan pelaku kejahatan kini lebih banyak memanfaatkan kelemahan manusia dibandingkan menyerang sistem teknologi secara langsung.
"Ancaman kejahatan siber juga terus berkembang dengan pola yang semakin kompleks dan sulit dikenali," ujarnya kepada Jawapos.com, Jumat (5/6).
Menurut Pratama, saat ini terdapat sejumlah modus penipuan digital yang paling sering menargetkan nasabah perbankan. Di antaranya phishing, smishing, vishing, impersonation, hingga penyebaran aplikasi berbahaya.
"Pelaku kejahatan tidak lagi hanya menyerang sistem teknologi, tetapi lebih banyak memanfaatkan kelemahan manusia melalui berbagai teknik manipulasi psikologis atau social engineering," katanya.
Baca Juga:1,4 Juta Akun Ditutup, Perang Lawan Penipuan Digital Kini Sasar Infrastruktur Kejahatan Siber
Ia menjelaskan, phishing dilakukan melalui tautan palsu yang menyerupai situs resmi bank atau lembaga tertentu untuk mencuri data pengguna. Sementara smishing memanfaatkan pesan singkat yang berisi tautan berbahaya, dan vishing dilakukan melalui panggilan telepon yang mengatasnamakan petugas bank, aparat penegak hukum, maupun instansi pemerintah.
Selain itu, marak pula modus penipuan yang menggunakan aplikasi APK berbahaya yang dikirim melalui aplikasi pesan instan. Ketika aplikasi tersebut dipasang oleh korban, pelaku dapat memperoleh akses ke perangkat, pesan singkat, hingga kode OTP yang digunakan untuk mengotorisasi transaksi keuangan.
Pratama menilai keberhasilan penipuan digital umumnya bukan disebabkan oleh lemahnya teknologi perbankan, melainkan kesalahan pengguna yang dimanfaatkan oleh pelaku.
"Dalam berbagai kasus yang terjadi, keberhasilan penipuan digital umumnya tidak disebabkan oleh kelemahan teknologi perbankan semata, melainkan karena adanya kesalahan pengguna yang dimanfaatkan oleh pelaku," ungkapnya.
Kesalahan yang paling sering terjadi antara lain memberikan kode OTP kepada pihak lain, mengklik tautan yang tidak jelas sumbernya, menginstal aplikasi dari luar toko aplikasi resmi, menggunakan kata sandi yang lemah, hingga mempercayai informasi yang mengatasnamakan bank tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022