
Terdakwa kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan laptop Chromebook Nadiem Makarim mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/1/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, membantah tudingan bahwa hartanya melonjak hingga Rp 6 triliun dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) miliknya.
Ia menilai anggapan tersebut muncul karena kesalahan dalam membaca dokumen pajak.
Pernyataan itu disampaikan Nadiem saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (9/3).
“Saya menerima fitnah baru mengenai adanya penempatan penghasilan pemerkayaan saya Rp 6 triliun berdasarkan SPT saya. Nah, ini hal yang sangat lucu,” kata Nadiem.
Ia menjelaskan, kenaikan nilai tersebut sebenarnya berasal dari saham yang telah dimilikinya sejak 2015, jauh sebelum ia menjabat sebagai menteri. Menurutnya, saham tersebut tidak pernah berpindah atau dijual sejak saat itu.
“Sidang kan sudah terbukti bahwa kenaikan saham, itu semua saham yang saya punya, saya dapatkan sejak 2015, lima tahun sebelum jadi menteri. Semua sahamnya tidak pernah ke mana-mana sejak 2015. Dan lebih lucunya lagi, tidak ada di tahun 2022 yang dibicarakan ada penjualan sama sekali. Karena memang saya tidak boleh jual saham saat debut. Lalu dibilang ada lonjakan penghasilan Rp 6 triliun. Itu salah baca SPT,” bebernya.
Nadiem menerangkan, angka Rp 5,2 triliun yang tercantum dalam SPT bukanlah penghasilan yang ia terima, melainkan nilai saham yang telah dimilikinya sejak lama.
Pencatatan tersebut muncul karena kewajiban pajak bagi pemegang saham saat PT Aplikasi Karya Anak Bangsa melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
“Setiap pemilik saham perusahaan yang mau go public itu wajib membayar pajak satu kali sebesar 0,5 persen dikali total saham dikali harga IPO. Jadi keliru membaca SPT-nya. Itu bukannya penghasilan, itu pengeluaran karena saya harus membayar pajak,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, sekitar 200 pemegang saham lainnya turut memiliki kewajiban pajak yang sama pada tahun tersebut.
Lebih lanjut, Nadiem membantah keras adanya penjualan saham pada 2022. Ia menjelaskan bahwa Bursa Efek Indonesia memberlakukan aturan larangan penjualan saham bagi pemegang saham awal selama delapan bulan setelah IPO.
“Jadi mustahil saya menjual saham di 2022,” imbuhnya.
Dalam perkara ini, Nadiem Makarim didakwa melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,18 triliun terkait pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
