kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan Nadiem Makarim sebelum sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/1/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengkritik kehadiran personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pengamanan persidangan dugaan korupsi yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, pada Senin (5/1).
Usman menegaskan, TNI memiliki fungsi konstitusional yang jelas dan tidak semestinya dilibatkan dalam pengamanan ruang sidang peradilan umum.
“TNI itu alat negara untuk melaksanakan kebijakan negara di sektor pertahanan, bukan satuan pengamanan di ruang sidang. TNI bukan satpam jaksa,” kata Usman Hamid dalam keterangan tertulis, Selasa (6/1).
Menurut Usman, pengadilan umum merupakan wilayah kekuasaan yudikatif yang harus dijaga independensinya dari segala bentuk intervensi, termasuk kehadiran aparat militer. Ia menilai, kehadiran personel militer berseragam tempur dalam ruang persidangan berpotensi menimbulkan tekanan psikologis dan suasana intimidatif bagi para pihak yang terlibat.
“Persidangan yang bebas dari tekanan ialah prasyarat bagi peradilan yang adil. Kehadiran personel militer berseragam tempur memberi atmosfer intimidasi bagi majelis hakim, para saksi, terdakwa beserta tim penasihat hukum yang hadir di persidangan,” ujar Usman.
Usman juga menegaskan, praktik tersebut melanggar ketentuan hukum dan tata kelola peradilan yang berlaku. Ia mengapresiasi langkah Ketua Majelis Hakim yang meminta personel TNI mundur dari ruang sidang.
“Itu menyalahi aturan. Sudah tepat Ketua Majelis Hakim meminta mereka mundur,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberadaan aparat militer tidak hanya menyalahi undang-undang, tetapi juga mengganggu jalannya persidangan secara teknis.
“Bukan hanya menghalangi pandangan pengunjung sidang dan jurnalis, tapi menyalahi undang-undang,” ucap Usman.
Atas dasar itu, Amnesty International Indonesia mendesak Kejaksaan untuk menghentikan pola pengamanan yang dinilai bersifat militeristik.
Usman juga menanggapi dalih penggunaan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kejaksaan dan TNI sebagai dasar pengamanan.
Menurutnya, MoU tersebut tidak dapat dijadikan legitimasi untuk menghadirkan militer di ruang sidang peradilan umum.
“Dalih ‘pengamanan’ sesuai Nota Kesepahaman (MoU) kedua instansi itu tidak mengikat pengadilan. Kejaksaan harus paham aturan dan fungsi konstitusional TNI,” cetus Usman.
Ia bahkan menilai keengganan Kejaksaan untuk menggunakan pengamanan dari Polri mencerminkan adanya persoalan yang lebih dalam. Menurutnya, fenomena tersebut bertentangan dengan komitmen Presiden yang menyatakan tidak akan menghidupkan kembali praktik militerisme dalam kehidupan sipil.
“Fenomena ini sekaligus menjadi antitesis pernyataan Presiden yang mengklaim tidak akan menghidupkan kembali militerisme,” tutur Usman.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
